Home Apps & Platform Akamai: Asia-Pasifik dan Jepang Belum Siap Hadapi Ancaman Online

Akamai: Asia-Pasifik dan Jepang Belum Siap Hadapi Ancaman Online

Dalam era digital yang terus berkembang, ancaman siber telah menjadi salah satu tantangan utama bagi bisnis di seluruh dunia. Dalam konteks Asia-Pasifik dan Jepang (APJ), sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Akamai Technologies, Inc. telah mengungkapkan bahwa bisnis di wilayah ini belum sepenuhnya siap untuk menghadapi ancaman online. Laporan berjudul “From Bad Bots to Malicious Scripts: The Effectiveness of Specialized Defenses” menyoroti ketidaksiapan APJ dalam menghadapi serangan siber yang semakin kompleks. Survey ini melibatkan lebih dari 300 pengambil keputusan di bidang Teknologi Informasi (TI) dan keamanan di seluruh dunia. Di bawah ini, kita akan membahas temuan utama dari laporan tersebut.

Serangan Bot Berbahaya, Skrip Berbahaya, dan Pengambilalihan Akun

Serangan bot berbahaya, skrip berbahaya, dan pengambilalihan akun (ATO) adalah beberapa ancaman siber utama yang dihadapi bisnis di APJ. Laporan ini menyatakan bahwa penggunaan solusi pihak ketiga khusus untuk melawan ancaman-ancaman ini masih kurang umum di wilayah ini. Hal ini membuat bisnis di APJ rentan terhadap serangan-serangan ini.

Reuben Koh, Director of Security Technology & Strategy di Akamai, mengatakan bahwa serangan-serangan ini dapat melewati perlindungan yang ada dan terus mengancam bisnis. Dengan menerapkan pertahanan pihak ketiga khusus, organisasi dapat lebih efektif dalam melawan serangan siber yang terus berubah dan mengurangi risiko secara keseluruhan.

Hasil Laporan

Berikut beberapa hasil utama dari laporan yang relevan dengan APJ:

  1. Pengambilalihan Akun (ATO): Laporan menunjukkan bahwa serangan pengambilalihan akun di APJ sangat tinggi, dengan 73 persen bisnis melaporkan telah diserang dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 60 persen bisnis di APJ yang telah menerapkan solusi pihak ketiga untuk menghadapi ATO, sementara rata-rata global mencapai 83 persen. Implementasi pertahanan khusus terhadap ATO menghasilkan berbagai manfaat, termasuk kemampuan mendeteksi aktivitas mencurigakan, visibilitas atas indikator yang membahayakan akun, dan kemampuan mendeteksi login penipuan.
  2. Perlindungan terhadap Skrip: Hanya 67 persen bisnis di APJ yang menggunakan solusi perlindungan khusus terhadap skrip, jauh di bawah rata-rata global sebesar 85 persen. Ancaman dari skrip pihak ketiga yang berbahaya semakin marak. Perlindungan yang lebih baik dapat membantu bisnis mendeteksi bahaya pada skrip, memprioritaskan kejadian yang harus diselidiki, dan mematuhi persyaratan kepatuhan.
  3. Bot Berbahaya: Serangan bot berbahaya juga merupakan ancaman yang signifikan di APJ, dengan 64 persen bisnis melaporkan serangan dalam 12 bulan terakhir. Meskipun peningkatan dalam upaya melawan bot telah terjadi, hanya 54 persen pengguna yang melaporkan peningkatan signifikan dalam kemampuan keamanan siber mereka setelah menerapkan solusi pihak ketiga.
  4. Pembajakan Audiens: Lebih dari 90 persen organisasi di APJ telah mengetahui tentang pembajakan audiens, dengan 26 persen di antaranya pernah mengalaminya. Dampak dari pembajakan audiens termasuk peningkatan pengabaian keranjang belanja dan penipuan afiliasi.

Metodologi

Akamai bermitra dengan Foundry untuk mengadakan survei terhadap lebih dari 300 pengambil keputusan bidang TI dan keamanan global. Kami menanyakan responden seputar solusi yang telah mereka terapkan untuk empat kategori besar penipuan dan penyalahgunaan: bot berbahaya, serangan pengambilalihan akun, perlindungan terhadap skrip, dan pencegahan pembajakan audiens.