Home Tren & Sosial Borobudur Marathon: Berlari di Tengah Kemegahan Candi Borobudur dan Kehangatan Masyarakat Magelang

Borobudur Marathon: Berlari di Tengah Kemegahan Candi Borobudur dan Kehangatan Masyarakat Magelang

sumber foto: harian Kompas

Event Borobudur Marathon Powered by Bank Jateng siap digelar pada tanggal 19 November 2023 di Lumbini Park, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Borobudur Marathon adalah acara lari tahunan yang semakin populer dari tahun ke tahun serta dapat menarik perhatian peserta dari dalam negeri maupun luar negeri. Borobudur Marathon 2023 digelar atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jateng, Bank Jateng, Yayasan Borobudur Marathon, dan Harian Kompas. Borobudur Marathon tidak hanya diadakan di Kota Magelang saja, namun di beberapa kota lainnya seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makasar, Banjarmasin, Medan, dan Palembang. Borobudur Marathon terdiri dari beberapa kategori, yakni Marathon, Half Marathon, dan 10K, dengan melibatkan pelari nasional dan internasional. Biaya pendaftaran untuk masing-masing lomba yaitu: Marathon Rp.575.000; Half Marathon Rp.475.000; 10K Rp.275.000. Jumlah peserta lomba itu ditargetkan sekitar 10.000 orang.

Di tahun 2023 ini Borobudur Marathon mengangkat tema “Voice of Unity”, tema ini digunakan untuk bersatu menyuarakan semangat juang bersama-sama serta saling menginspirasi melalui suara persatuan. Semangat persatuan tidak akan luput dari kolaborasi yang terjalin antar masyarakat. Hal ini menjadi saat yang tepat untuk membentuk kolaborasi di Borobudur Marathon bersama pelari dan masyarakat sekitar.

Marathon akan dimulai pada pagi hari, dan para peserta akan berlari melewati rute berlatar belakang Candi Borobudur yang indah. Sensasi udara pagi dipadukan dengan pemandangan arsitektur candi yang menyimpan sejarah dan kebudayaan serta kemeriahan warga Magelang yang hangat, membuat acara marathon ini berbeda dari acara marathon yang lain. Kolaborasi yang terbentuk bersama masyarakat lokal, telah menginisasi ekonomi kreatif bagi warga sekitar. Bagaimana tidak, setiap tahunnya ribuan pelari berlomba-lomba mengunjungi Magelang untuk mencicipi kuliner lokal seperti siomay dan mangut beong (ikan endemis Kali Progo, Magelang), soto bebek, beragam olahan singkong seperti gethuk cothot dan mendut telo, nasi telang, seblak lethek, dawet ireng ketan hijau, dan es pisang mendut sari. Pengalaman budaya yang ditawarkan tak hanya melalui kuliner lokal. Borobudur Marathon juga menghadirkan seni kriya khas warga sekitar Borobudur seperti kriya limbah kayu bernilai jual tinggi berupa jam tangan kayu, pengeras suara, dan berbagai barang lain yang menggunakan teknologi grafir dalam pembuatannya. Limbah cangkang telur ayam untuk mempercantik ornamen kriya kayu berupa kitchen ware juga menjadi salah satu produk yang bersaing di pasar kreatif Borobudur Marathon.

Bentuk kolaborasi lainnya yang selalu dinanti para pelari dari tahun ke tahun adalah dukungan dari warga sekitar berupa pertunjukan seni di sepanjang racetrack. Kelompok kesenian yang berkesempatan untuk tampil sebagai supporter telah dikurasi sebagai ajang promosi wisata dan budaya melalui olahraga lari. Suasana meriah mewarnai rute, terutama karena adanya penampil-penampil penyemangat dari warga desa maupun sekolah-sekolah. Mereka menyanyi, menari, memainkan musik, dan mengenakan kostum-kostum bernapaskan adat daerah untuk menjaga energi para pelari. Di salah satu titik misalnya, panggung kecil didirikan untuk pertunjukan kolintang dan bermacam dendang. Ini adalah persembahan dari SMPN 1 Kota Mungkid, Magelang. “Untuk Borobudur Marathon ini, kami menyiapkan pertunjukan berupa orkestra kolintang dengan perpaduan gerak dan seni. Ada beberapa lagu daerah dan nasional yang dibawakan. Penampilnya 120 siswa yang diseleksi dari kelas 7 dan 8,” cerita Mohammad Yusup, Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Mungkid. Kelompok ini hanyalah salah satu dari puluhan penampil yang menyemarakkan Tilik Candi seperti dilansir dari Harian Jogja.

Sub sektor pariwisata lainnya yang turut merasakan gempita penyelenggaraan Borobudur Marathon adalah para pengusaha bidang hotel dan homestay. Dilansir dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, menurut Ketua Paguyuban Kampung Homestay Borobudur, Muslih mengatakan, Borobudur Marathon memberikan dampak sangat signifikan bagi pengelola homestay, terutama yang berada di sekitar Candi Borobudur. Angka peningkatan jauh lebih tinggi ketimbang hari biasa yang hanya 35-40 persen. “Sampai saat ini okupansi dari homestay sudah 80 persen. Alhamdulillah sekali karena selama pascapandemi kami mengalami masa ramai kalau ada event di komplek Candi Borobudur,” paparnya. Ditambahkan, di wilayahnya ada 30 homestay yang dikelola oleh masyarakat, dengan 140 kamar lebih. Satu unit homestay bisa merekrut dua sampai tiga karyawan. “Rata-rata wisatawan datang dari Jabodetabek dan Jawa Timur. Bukan hanya homestay, peningkatan juga dialami oleh pelaku UMKM,” imbuhnya.

Pada gelarannya di tahun ke-7, Borobudur Marathon juga melibatkan sebanyak 20 UMKM kuliner terpilih untuk dimentori oleh Puri Asri Hotel & Resort Magelang dan Plataran Borobudur & Resort, yang nantinya mereka akan menjamu para pelari dan turut serta memeriahkan rangkaian acara Borobudur Marathon 2023. Informasi lebih lanjut untuk acara dapat diperoleh pada website resmi www.borobudurmarathon.com dan akun resmi media sosial di Instagram, facebook, dan twitter.

Biodata Penulis

Danu Hendrawan
Mahasiswa Magiste Tata Kelola Seni
Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Yogyakarta