
Kapan terakhir kali smartphone digunakan hanya -dan hanya- untuk menelepon?
Sulit mengingatnya. Bagi kebanyakan orang, menelepon kini hanya menjadi salah satu smartphone. Fungsi lainnya banyak: berkirim pesan, mencari jalan, memesan kendaraan, membayar makanan, berbelanja, mengambil foto, menonton video, bekerja, hingga belakangan ini marak -bertanya kepada generative artificial intelligence (AI).
Pada kuartal II 2016, penetrasi smartphone di Indonesia masih berada di bawah 50 persen, menurut Counterpoint Research. Pada periode yang sama, smartphone dengan jaringan LTE mulai tumbuh pesat dan mendorong perubahan cara masyarakat mengakses internet.
Sepuluh tahun kemudian, situasinya berubah cukup jauh. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72 persen pada 2026, atau sekitar 235 juta pengguna. Smartphone menjadi perangkat yang paling banyak digunakan untuk mengakses internet, dengan proporsi 84,31 persen.
Perubahan ini membuat smartphone memiliki posisi yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Internet tidak lagi identik dengan komputer atau aktivitas yang dilakukan pada waktu tertentu. Akses internet kini berada di perangkat yang dibawa sehari-hari, digunakan di tempat kerja, perjalanan, restoran, maupun di rumah.
Pembayaran digital menjadi salah satu contoh perubahan tersebut. Bank Indonesia mencatat hingga Juni 2026 terdapat 65,77 juta pengguna QRIS dan 44,86 juta merchant. Sepanjang semester I 2026, QRIS memproses 12,55 miliar transaksi dengan nilai Rp1,12 kuadriliun.
Ketika smartphone digunakan untuk semakin banyak kebutuhan, standar terhadap perangkat ikut berubah. Kamera dibutuhkan karena smartphone juga menjadi alat untuk membuat konten. Penyimpanan menjadi penting karena foto, video dan aplikasi terus bertambah. Baterai harus mampu menopang penggunaan sepanjang hari, sementara performa dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi, gim dan berbagai layanan digital.
Perubahan fungsi smartphone juga terlihat pada cara masyarakat menikmati hiburan. Survei APJII 2026 mencatat video pendek menjadi konten hiburan yang paling banyak diakses, dengan proporsi 30,2 persen. Aktivitas media sosial dan scrolling mencapai 28,7 persen, sedangkan video panjang, film dan serial berada di angka 17,6 persen.
Smartphone tidak lagi hanya menjadi layar untuk menikmati konten. Kamera dan aplikasi editing membuat perangkat yang sama dapat digunakan untuk merekam, mengolah, sekaligus mendistribusikan konten. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan beberapa perangkat kini dapat dilakukan dari satu smartphone.
Smartphone berubah, cara konsumen membeli teknologi juga berubah.
Pandemi mempercepat pergeseran menuju kanal digital. Counterpoint Research mencatat penjualan smartphone melalui kanal online pada kuartal II 2020 tumbuh 70 persen secara tahunan. Pangsa penjualan online pada periode tersebut mencapai 19 persen, dibandingkan 9 persen pada kuartal II 2019.
Kebiasaan mencari informasi secara online kemudian menjadi bagian dari proses pembelian. Konsumen dapat mempelajari spesifikasi, membaca ulasan, membandingkan harga, lalu memilih membeli secara online atau datang ke toko untuk mencoba perangkat secara langsung.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi bagi industri retail. Ketika informasi produk tersedia di banyak tempat dan konsumen memiliki lebih banyak pilihan, toko tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk mencari informasi.
Perubahan inilah yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan 30 Tahun Erajaya Group, khususnya dalam mendampingi perkembangan pasar smartphone dan teknologi di Indonesia.
Ketika Retail Beradaptasi dengan Konsumen
Erajaya didirikan pada 1996 sebagai importir, distributor dan retailer perangkat telekomunikasi. Dalam tiga dekade, bisnisnya berkembang jauh melampaui ponsel dan perangkat komunikasi.
Perkembangan tersebut tidak hanya ditandai dengan bertambahnya produk yang dijual. Perubahan cara konsumen mencari informasi dan berbelanja teknologi juga mendorong perubahan pada model retail yang dibangun perusahaan.
Erajaya Digital, misalnya, mengoperasikan berbagai format retail seperti erafone, iBox, Urban Republic, Samsung by erafone serta sejumlah gerai monobrand. Masing-masing memiliki karakter dan kategori produk yang berbeda.
Perbedaan format tersebut mengikuti kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Konsumen yang mencari smartphone memiliki kebutuhan berbeda dengan mereka yang ingin melihat perangkat ekosistem, wearable, audio atau produk lifestyle.
Di sisi lain, informasi produk sekarang tersedia luas di internet. Konsumen dapat mengetahui spesifikasi, melihat perbandingan, membaca ulasan dan mencari harga sebelum datang ke toko.
Karena itu, fungsi toko ikut bergeser. Konsumen datang untuk melihat dan mencoba perangkat secara langsung, mendapatkan penjelasan, atau membandingkan beberapa produk sebelum menentukan pilihan.
Toko menjadi bagian dari perjalanan konsumen, bukan lagi satu-satunya sumber informasi.
Perubahan perilaku tersebut kemudian mendorong Erajaya mengembangkan pendekatan omnichannel. Pada 2018, perusahaan meluncurkan layanan omnichannel yang menghubungkan kanal online dan offline. Eraspace kemudian menjadi bagian dari ekosistem digital tersebut, sementara MyEraspace dikembangkan sebagai platform loyalitas.
Konsep ini mengikuti kebiasaan konsumen yang semakin tidak membedakan secara tegas antara belanja online dan offline. Konsumen dapat menemukan produk melalui internet, datang ke toko untuk mencobanya, kemudian membeli melalui kanal digital. Mereka juga dapat melakukan proses sebaliknya.
Bagi retail, tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan barang di tempat yang tepat, tetapi memastikan pengalaman konsumen tetap berjalan ketika mereka berpindah kanal.
Hubungan dengan Konsumen Tidak Berhenti di Transaksi
Perubahan berikutnya terjadi pada layanan setelah pembelian.
Smartphone dan perangkat elektronik memiliki siklus penggunaan yang panjang. Setelah transaksi selesai, konsumen masih dapat membutuhkan perlindungan perangkat, pembiayaan, trade-in, upgrade maupun layanan lainnya.
Erajaya mengembangkan sejumlah layanan untuk menjawab kebutuhan tersebut, termasuk perlindungan perangkat melalui TecProtec dan layanan leasing handset. Di jaringan erafone, perusahaan juga mengembangkan layanan seperti eraXpress, Free Exchange Program, Device Protection dan Click n’ Pickup.
Layanan tersebut memperluas peran retail dari sekadar tempat transaksi menjadi bagian dari siklus penggunaan perangkat.
Hal ini semakin relevan ketika konsumen memiliki banyak sumber informasi. Spesifikasi dan harga dapat dicari melalui internet, sehingga pengalaman dan layanan menjadi bagian penting dalam menentukan nilai sebuah retailer.
Dengan kata lain, hubungan dengan konsumen tidak lagi selesai ketika perangkat berpindah tangan.
Dari Teknologi ke Lifestyle
Perubahan kebutuhan konsumen kemudian membawa Erajaya ke kategori yang lebih luas.
Pada 2021, perusahaan membentuk Erajaya Active Lifestyle dan Erajaya Food & Nourishment sebagai bagian dari pengembangan bisnis. Active Lifestyle berkembang melalui berbagai merek olahraga dan lifestyle, termasuk JD Sports, ASICS, Garmin, DJI, ANTA dan Wilson. Pada 2025, bisnis tersebut juga memasuki kategori kendaraan listrik melalui XPENG.
Sementara itu, Erajaya Food & Nourishment mengembangkan portofolio F&B melalui brand seperti Paris Baguette, GrandLucky dan CHAGEE.
Jika dilihat dari kategorinya, ekspansi tersebut memang cukup jauh dari bisnis awal Erajaya sebagai distributor dan retailer perangkat telekomunikasi. Namun, kategori-kategori tersebut memiliki titik temu pada perubahan aktivitas konsumen.
Wearable digunakan untuk olahraga dan aktivitas sehari-hari. Perangkat audio menemani perjalanan. Smartphone menjadi penghubung berbagai layanan digital. Kendaraan juga semakin terintegrasi dengan teknologi.
Karena itu, ekspansi Erajaya dapat dilihat sebagai upaya mengikuti kategori yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari konsumen, ketika batas antara teknologi dan lifestyle semakin tipis.
Ketika AI Mulai Masuk ke Toko
Perubahan terbaru datang dari perkembangan artificial intelligence (AI).
AI generatif mulai menjadi bagian dari smartphone dalam beberapa tahun terakhir. Fungsinya tidak lagi sekadar menjadi fitur tambahan, tetapi mulai digunakan untuk mengolah foto, menerjemahkan bahasa hingga mendukung pekerjaan dan produktivitas.
Di Indonesia, adopsinya memang masih berada pada tahap awal. Survei APJII 2026 mencatat 18,2 persen responden menggunakan AI. Di antara pengguna tersebut, AI dimanfaatkan untuk hiburan sebesar 36,5 persen, edukasi dan riset 30,2 persen, serta pekerjaan dan produktivitas 26,9 persen.
Data internal Google pada Januari hingga Maret 2026 juga menunjukkan 82 persen prompt Gemini dari Indonesia berasal dari perangkat mobile dan 84 persen menggunakan bahasa lokal.
Data tersebut menunjukkan bahwa AI tidak harus hadir sebagai teknologi yang berdiri sendiri. Bagi pengguna, AI dapat menjadi bagian dari perangkat yang memang sudah mereka gunakan setiap hari.
Perubahan ini juga mulai terlihat di retail. Pada 2024, Erajaya Digital menghadirkan Google Android AI Zone di sejumlah gerai erafone. Konsumen dapat mencoba langsung perangkat dan fitur AI yang tersedia.
Pendekatan tersebut menjadi relevan karena manfaat AI sering kali lebih mudah dipahami melalui pengalaman langsung daripada penjelasan spesifikasi. Konsumen dapat melihat bagaimana sebuah fitur membantu menerjemahkan percakapan, mengolah foto atau menyelesaikan tugas tertentu.
Fungsi toko pun kembali menyesuaikan diri. Jika sebelumnya konsumen datang terutama untuk mencari dan membeli perangkat, toko kini juga dapat menjadi tempat untuk mencoba teknologi yang masih baru bagi sebagian pengguna.
Tiga Dekade dan Perubahan yang Terus Berjalan
Perjalanan Erajaya selama tiga dekade tidak hanya terlihat dari jumlah toko atau banyaknya merek dalam portofolionya. Perubahan yang lebih penting terlihat dari bagaimana bisnis tersebut beradaptasi ketika cara konsumen menggunakan teknologi berubah.
Ketika smartphone berkembang menjadi perangkat utama untuk mengakses internet, pilihan perangkat dan format retail ikut berkembang. Ketika konsumen mulai berpindah antara kanal digital dan fisik, omnichannel dikembangkan. Ketika kebutuhan setelah pembelian semakin beragam, layanan tambahan ikut diperluas.
Saat teknologi semakin menyatu dengan gaya hidup, portofolio bisnis melebar ke olahraga, perangkat pendukung, F&B hingga kendaraan listrik.
Ketika AI mulai menjadi bagian dari perangkat, toko kembali mendapatkan fungsi baru sebagai tempat konsumen mencoba dan memahami teknologi tersebut.
Dalam laporan tahun 2025, Erajaya menyebut pasar smartphone Indonesia diproyeksikan melewati 40 juta unit. Laporan tersebut juga mencatat adopsi GenAI mulai memengaruhi perangkat, terutama di segmen menengah hingga premium.
Pada 2025, bisnis digital masih menjadi kontributor terbesar pendapatan Erajaya dengan sekitar 74 persen. Bisnis internasional menyumbang 14,8 persen, Active Lifestyle 7,5 persen, dan Food & Nourishment 3,8 persen.
Per 1Q 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.400 outlet di Indonesia dan pasar internasional. Erajaya Digital memiliki 1.859 toko, sementara MyEraspace telah memiliki lebih dari 17,5 juta anggota.
Angka tersebut menunjukkan skala bisnis yang terbentuk sejak 1996. Namun, ukuran jaringan bukan satu-satunya cara melihat perjalanan tersebut.
Yang lebih penting adalah bagaimana model bisnisnya berubah mengikuti konsumen: dari perangkat telekomunikasi ke ekosistem digital, dari toko fisik ke omnichannel, dari transaksi ke layanan, hingga dari smartphone ke berbagai kategori lifestyle.
Pada akhirnya, 30 Tahun Erajaya Group adalah perjalanan tentang bagaimana retail teknologi beradaptasi ketika teknologi dan kebiasaan konsumen terus berubah.
Bukan hanya soal menjual perangkat, tetapi tentang bagaimana tetap relevan ketika kebutuhan konsumen bergerak dari satu kategori ke kategori berikutnya.
Selamat ulang tahun ke-30, Erajaya Group!.
Tanya Jawab Seputar 30 Tahun Erajaya Group
1. Kapan Erajaya Group didirikan?
Erajaya Group didirikan pada 1996. Pada awalnya, perusahaan menjalankan bisnis sebagai importir, distributor dan retailer perangkat telekomunikasi. Dalam perkembangannya, bisnis Erajaya meluas ke berbagai kategori teknologi, lifestyle, F&B dan kendaraan listrik.
2. Bagaimana bisnis Erajaya berkembang selama 30 tahun?
Selama 30 tahun, Erajaya berkembang dari bisnis distribusi dan retail perangkat telekomunikasi menjadi ekosistem bisnis dengan beberapa kategori. Perkembangannya mencakup retail digital dan omnichannel, layanan setelah pembelian, lifestyle, F&B hingga kendaraan listrik.
3. Apa saja format retail yang dimiliki Erajaya Digital?
Erajaya Digital mengoperasikan sejumlah format retail, antara lain erafone, iBox, Urban Republic, Samsung by erafone serta berbagai gerai monobrand. Format tersebut melayani kebutuhan konsumen yang berbeda, mulai dari smartphone hingga perangkat elektronik dan lifestyle.
4. Bagaimana Erajaya mengikuti perubahan cara konsumen berbelanja teknologi?
Erajaya mengembangkan pendekatan omnichannel yang menghubungkan pengalaman belanja online dan offline. Konsumen dapat mencari informasi dan produk secara digital, mencoba perangkat di toko, kemudian menyelesaikan transaksi melalui kanal yang sesuai dengan kebutuhannya.
5. Apa bisnis Erajaya selain smartphone dan perangkat teknologi?
Selain bisnis digital dan perangkat teknologi, Erajaya memiliki bisnis Active Lifestyle serta Food & Nourishment. Portofolio Active Lifestyle mencakup berbagai merek olahraga dan lifestyle serta kendaraan listrik, sementara Food & Nourishment bergerak di kategori makanan, minuman dan retail kebutuhan sehari-hari.
6. Apa hubungan perkembangan AI dengan bisnis retail Erajaya?
Perkembangan AI membuat toko tidak hanya berfungsi sebagai tempat membeli perangkat, tetapi juga sebagai tempat konsumen mencoba teknologi baru. Salah satu contohnya adalah kehadiran Google Android AI Zone di sejumlah gerai erafone yang memungkinkan konsumen mencoba langsung fitur AI pada perangkat.
7. Berapa jumlah toko Erajaya per 2026?
Per 1Q 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.400 outlet di Indonesia dan pasar internasional. Erajaya Digital sendiri memiliki 1.859 toko, sementara MyEraspace telah memiliki lebih dari 17,5 juta anggota.


