Home Enterprise Riset iCIO Community: 33% CEO Masih Anggap Digital Sekadar Fungsi Pendukung

Riset iCIO Community: 33% CEO Masih Anggap Digital Sekadar Fungsi Pendukung

Transformasi digital di perusahaan Indonesia memang sudah naik ke meja direksi, namun tingkat penyelarasan antar pimpinan masih belum sepenuhnya solid. Hal ini terungkap dalam riset terbaru iCIO Community bertajuk “Balancing Innovation and Control: Inside the Boardroom of Digital Decision-Making” yang menyoroti dinamika pengambilan keputusan investasi digital di level C-Level. Siaran Pers – Riset iCIO Commun…

Riset yang melibatkan IT Leaders dan CEO dari 12 industri—mulai dari Financial Services, Banking, Manufacturing, hingga Healthcare—menunjukkan bahwa 41% keputusan investasi dan anggaran IT masih dipimpin oleh CIO atau Technology Leaders. Meski begitu, keterlibatan CEO dan jajaran board tercatat semakin meningkat, menandakan bahwa agenda digital kini dipandang sebagai isu strategis bisnis.

Namun, tantangan masih terasa. Dari sisi CEO, 56% menyatakan digital telah terintegrasi penuh dalam strategi bisnis, sementara 33% lainnya masih melihat digital sebagai fungsi pendukung. Sisanya, sekitar 11%, menilai bahwa keselarasan sudah terbentuk tetapi masih menyisakan gap dalam tahap implementasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa masalah utama bukan lagi soal niat bertransformasi, melainkan konsistensi penyelarasan strategi antara bisnis dan teknologi.

Menurut David Wirawan, Koordinator Divisi Riset iCIO Community, kondisi ini mencerminkan fase transisi yang dialami banyak organisasi. Ia menegaskan bahwa kesenjangan yang terjadi lebih berkaitan dengan perbedaan cara pandang antar pimpinan dalam menyepakati prioritas, risiko, serta ukuran keberhasilan transformasi digital, bukan pada kurangnya komitmen terhadap inovasi. Siaran Pers – Riset iCIO Commun…

Dari perspektif belanja IT, 55% CEO sudah mengkategorikan investasi digital sebagai pendorong pertumbuhan bisnis, bukan sekadar biaya operasional. Meski demikian, sebagian organisasi masih menerapkan kontrol ketat terhadap anggaran IT, terutama di tengah tekanan efisiensi dan ketidakpastian ekonomi. Di sinilah peran CIO menjadi semakin kompleks: dituntut terus berinovasi, sekaligus mampu menunjukkan dampak bisnis yang terukur.

Menariknya, riset ini juga mencatat bahwa 63% organisasi tetap meningkatkan anggaran digital secara selektif. Fokus investasi diarahkan pada teknologi dengan nilai strategis tinggi seperti AI dan GenAI, cloud, cybersecurity, platform digital customer experience, real-time data analytics, serta cloud-native architecture, yang diproyeksikan menjadi prioritas hingga 2026. Siaran Pers – Riset iCIO Commun…

Edwin Sugianto, Koordinator Divisi Riset iCIO Community, menilai pendekatan ini menandai perubahan pola inovasi di perusahaan Indonesia. Inovasi tetap berjalan, tetapi tidak lagi bersifat eksperimental. Setiap investasi teknologi kini dituntut memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan bisnis—baik untuk efisiensi, pertumbuhan, maupun ketahanan jangka panjang. Siaran Pers – Riset iCIO Commun…

Meski investasi terus bergulir, cara mengukur keberhasilan transformasi digital masih didominasi pendekatan finansial. Sebanyak 53% organisasi masih mengandalkan ROI sebagai indikator utama, sementara 33% mulai mengombinasikannya dengan Return on Value (RoV), seperti peningkatan pengalaman pelanggan dan kesiapan organisasi. Sisanya bahkan sudah menjadikan RoV sebagai ukuran utama, meski perbedaan perspektif antar pimpinan dan tuntutan hasil jangka pendek masih menjadi hambatan.

Menghadapi 2026, mayoritas organisasi menilai diri mereka cukup adaptif, namun masih cenderung reaktif terhadap perubahan ekonomi, regulasi, dan persaingan. Riset ini menyimpulkan bahwa kesenjangan terbesar perusahaan Indonesia saat ini bukan pada kemauan bertransformasi, melainkan pada kemampuan membangun kepemimpinan kolektif dan akuntabilitas bersama di level direksi agar strategi digital dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.