Home Enterprise Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Manfaatkan AI

Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Manfaatkan AI

Ilustrasi line art minimalis tentang serangan siber berbasis AI, menampilkan robot menyerang sistem keamanan digital dengan ikon malware dan phishing, sementara tim keamanan siber berusaha melindungi jaringan di balik firewall.

Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membantu perusahaan meningkatkan produktivitas dan mengotomatisasi pekerjaan. Teknologi yang sama juga mempercepat perkembangan ancaman siber, membuat organisasi harus menghadapi serangan yang semakin cepat dan kompleks.

Laporan terbaru Cisco bertajuk Relentless Defense Report mengungkapkan bahwa 95% organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan yang mengganggu operasional bisnis dalam 12 bulan terakhir. Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat teknologi AI.

Temuan yang diumumkan pada 14 Oktober 2026 ini memperlihatkan besarnya tantangan keamanan siber di tengah adopsi AI yang semakin luas. Perusahaan bukan hanya dituntut memiliki teknologi pertahanan yang lebih canggih, tetapi juga harus mampu mendeteksi, mengambil keputusan, dan merespons ancaman dengan cepat.

Cisco menilai, salah satu masalah utama justru berada di dalam organisasi. Koordinasi antartim yang belum optimal, birokrasi persetujuan, dan akses data yang terfragmentasi dapat memperlambat respons terhadap serangan, bahkan ketika perangkat keamanan yang memadai sudah tersedia.

95% Organisasi Indonesia Mengalami Insiden Siber Berdampak Signifikan

Angka 95% menjadi salah satu temuan utama dalam laporan Cisco. Persentase tersebut menunjukkan organisasi di Indonesia yang mengalami insiden siber berdampak signifikan terhadap operasional bisnis selama 12 bulan terakhir, bukan persentase seluruh serangan yang menggunakan AI.

Dari kelompok tersebut, lebih dari separuh insiden melibatkan serangan yang diperkuat AI. Artinya, AI telah menjadi bagian penting dari lanskap ancaman siber yang harus diantisipasi perusahaan.

Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi tim keamanan. Jika proses koordinasi dan pengambilan keputusan internal masih membutuhkan waktu lama, organisasi berpotensi kesulitan menghadapi ancaman yang dapat bergerak dalam hitungan detik melalui agen otonom atau autonomous agent.

Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia, mengatakan bahwa kecepatan pertahanan siber kini semakin ditentukan oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi.

Menurutnya, organisasi perlu mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional bisnis, bukan sekadar memperlakukannya sebagai pemenuhan kewajiban kepatuhan atau compliance. Perusahaan juga perlu mengurangi sekat antartim agar orang yang tepat dapat mengambil keputusan pada waktu yang tepat.

Hambatan Keamanan Siber Bukan Hanya Soal Teknologi

Salah satu pesan penting dari Relentless Defense Report adalah bahwa peningkatan kemampuan teknis tidak otomatis membuat organisasi lebih tangguh menghadapi serangan siber.

Cisco mengidentifikasi sejumlah hambatan operasional yang memperlambat tim keamanan di Indonesia.

Pertama, koordinasi antartim masih menjadi pekerjaan rumah. Hanya 63% organisasi di Indonesia yang menyatakan bahwa tim keamanan, jaringan, dan teknologi informasi (IT) bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas serta perangkat yang sama.

Ketika setiap tim menggunakan sistem dan data yang berbeda, proses memahami situasi keamanan secara menyeluruh menjadi lebih sulit. Kondisi ini juga dapat memperlambat penanganan insiden karena informasi harus dikumpulkan terlebih dahulu sebelum keputusan diambil.

Kedua, komunikasi antara tim keamanan dan jajaran eksekutif belum selalu berjalan efektif. Sebanyak 43% responden menyatakan bahwa metrik yang mereka gunakan terlalu teknis untuk meyakinkan pimpinan perusahaan.

Sementara itu, 29% mengalami kesulitan menerjemahkan metrik bisnis menjadi informasi yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Sebanyak 26% lainnya bahkan tidak memiliki metode yang konsisten untuk mengukur kinerja keamanan.

Masalah ketiga berkaitan dengan akses data. Sebanyak 38% organisasi di Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem dibandingkan menangani ancaman itu sendiri. Selain itu, 46% responden mengaku kehilangan wawasan penting karena data berada di luar jangkauan mereka.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pertahanan siber membutuhkan lebih dari sekadar perangkat keamanan. Perusahaan juga perlu membangun proses kerja yang memungkinkan informasi mengalir dengan baik dan keputusan dapat diambil tanpa hambatan yang tidak perlu.

AI Membantu Mempercepat Deteksi Ancaman, tetapi Adopsinya Masih Menghadapi Kendala

Di sisi lain, AI juga memberikan manfaat nyata bagi operasional keamanan siber.

Cisco melaporkan bahwa hampir seluruh praktisi keamanan di Indonesia mengalami peningkatan kemampuan deteksi dan respons setidaknya 25%. Lebih dari sepertiga responden menyebut peningkatan tersebut secara signifikan mengurangi beban operasional.

Lebih dari separuh organisasi di Indonesia juga telah menggunakan kemampuan keamanan berbasis AI secara ekstensif. Penggunaannya paling tinggi pada aspek keamanan data dan privasi, sedangkan penerapannya relatif paling rendah pada Identity and Access Management (IAM), yakni pengelolaan identitas dan hak akses pengguna maupun sistem.

Meski menawarkan manfaat, implementasi AI untuk operasional keamanan belum sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Sebanyak 40% organisasi belum menerapkan agen AI secara ekstensif untuk kebutuhan tersebut.

Kekhawatiran mengenai kebocoran data, sistem yang disusupi, dan risiko yang berkaitan dengan pihak ketiga menjadi beberapa faktor penghambatnya.

Di saat yang sama, lebih dari 80% organisasi tetap percaya diri mampu mendeteksi dan merespons agen AI yang telah diambil alih atau disusupi pihak tidak berwenang.

Angka ini menunjukkan adanya tantangan yang perlu dikelola secara seimbang. Organisasi perlu memanfaatkan kemampuan AI untuk mempercepat deteksi dan respons, tetapi tetap harus memastikan bahwa sistem AI yang digunakan memiliki pengawasan serta kontrol keamanan yang memadai.

Organisasi dengan Koordinasi Lebih Baik Cenderung Lebih Tangguh

Dalam laporan tersebut, Cisco menggunakan istilah Relentless Defenders untuk menyebut kelompok organisasi yang memiliki kinerja pertahanan siber terbaik berdasarkan cakupan perlindungan, kecepatan merespons ancaman, dan hambatan operasional yang mereka hadapi.

Secara global, kelompok ini mencakup 8% organisasi. Sementara di Indonesia, sebanyak 29% organisasi masuk kategori tersebut. Skor rata-rata organisasi Indonesia dalam penilaian Cisco mencapai 72 dari 100.

Namun, status tersebut bukan berarti organisasi terbebas dari risiko. Tantangannya adalah mempertahankan kemampuan pertahanan ketika ancaman terus berkembang dan proses operasional harus bergerak lebih cepat.

Cisco menemukan bahwa organisasi dalam kelompok Relentless Defenders cenderung memiliki koordinasi lebih kuat dan kontrol AI yang lebih konsisten.

Sebanyak 83% kelompok ini beroperasi dengan tim keamanan yang terkoordinasi dan menggunakan visibilitas serta perangkat yang sama di bidang keamanan, jaringan, dan infrastruktur. Angka tersebut jauh di atas 37% pada kelompok organisasi lainnya.

Dalam pengendalian agen AI dan identitas nonmanusia, 86% Relentless Defenders telah menerapkan kontrol yang konsisten, dibandingkan 37% pada kelompok pembanding.

Kelompok ini juga menunjukkan kemampuan lebih baik dalam memanfaatkan AI. Sebanyak 25% melaporkan bahwa AI membantu meningkatkan kecepatan deteksi ancaman lebih dari 100%, dibandingkan hanya 7% pada organisasi lainnya.

Sementara itu, di antara organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan, kelompok Relentless Defenders hampir dua kali lebih mungkin melaporkan penurunan insiden siber, yakni 71% dibandingkan 39% pada kelompok pembanding.

Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas pertahanan siber tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran. Cara perusahaan mengelola tim, mengintegrasikan sistem, mengendalikan AI, dan mempercepat pengambilan keputusan turut menentukan hasilnya.

Strategi Menghadapi Serangan Siber Berbasis AI

Bagi perusahaan di Indonesia, laporan Cisco memberikan gambaran bahwa strategi keamanan siber perlu berkembang seiring kemampuan AI yang digunakan oleh penyerang maupun tim pertahanan.

Penguatan sistem keamanan tetap penting, tetapi harus disertai perbaikan koordinasi antara tim IT, jaringan, keamanan, pengadaan, dan jajaran eksekutif. Organisasi juga perlu memastikan bahwa data yang dibutuhkan untuk mendeteksi serta menangani ancaman dapat diakses oleh pihak yang berwenang.

Penggunaan agen AI untuk operasional keamanan pun perlu disertai kontrol yang jelas, termasuk pengelolaan identitas nonmanusia dan pemantauan terhadap kemungkinan sistem disusupi.

Tidak kalah penting, hasil kerja tim keamanan perlu diterjemahkan ke dalam metrik yang relevan bagi bisnis. Dengan begitu, pimpinan perusahaan dapat memahami dampak risiko siber dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih jelas.

Laporan Relentless Defense Report disusun berdasarkan survei double-blind terhadap 8.000 profesional keamanan di 30 pasar pada April dan Mei 2026. Penelitian tersebut dilakukan oleh pihak ketiga independen, Satori Experience, dengan menilai cakupan perlindungan, kecepatan deteksi dan respons, serta hambatan yang dihadapi organisasi.

Pada akhirnya, meningkatnya serangan siber berbasis AI menjadi pengingat bahwa teknologi pertahanan saja tidak cukup. Ketika ancaman dapat bergerak semakin cepat, perusahaan juga harus memastikan bahwa manusia, proses kerja, dan sistem keamanan mampu merespons sebagai satu kesatuan.