
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) semakin masif di industri perdagangan digital. Mulai dari chatbot layanan pelanggan, rekomendasi produk yang lebih personal, hingga proses checkout otomatis, AI kini menjadi bagian penting dalam pengalaman belanja digital.
Namun, di balik meningkatnya adopsi AI tersebut, ancaman keamanan siber juga ikut berkembang. Laporan terbaru State of the Internet (SOTI) 2026 dari Akamai mengungkap bahwa aktivitas bot yang menyerang perusahaan perdagangan digital di kawasan Asia Pasifik (APAC) meningkat hingga 63% sepanjang 2025, menjadi kenaikan tertinggi dibandingkan wilayah lain di dunia.
Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI tidak hanya membuka peluang bisnis baru, tetapi juga memperluas permukaan serangan (attack surface) yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Perdagangan Digital Jadi Penyumbang Terbesar Aktivitas Bot AI
Dalam laporan tersebut, Akamai menemukan bahwa selama periode Juli hingga Desember 2025, sektor perdagangan digital menyumbang sekitar 38% dari seluruh lalu lintas bot AI yang diamati di berbagai industri di kawasan Asia Pasifik.
Fenomena ini terjadi seiring semakin banyak perusahaan ritel yang mengadopsi konsep agentic commerce, yakni penggunaan AI dan otomatisasi untuk memberikan pengalaman belanja yang lebih personal, mempercepat proses transaksi, sekaligus mengurangi pelanggan yang batal melakukan pembelian (cart abandonment).
Di sisi lain, pertumbuhan chatbot berbasis AI generatif juga meningkat pesat di berbagai layanan digital.
Sayangnya, kondisi tersebut membuat lalu lintas otomatis yang sah menjadi semakin sulit dibedakan dengan aktivitas bot berbahaya seperti:
- credential stuffing
- web scraping
- account takeover
- penyalahgunaan API
- automated fraud
Semakin kompleksnya pola serangan membuat perusahaan perlu memiliki sistem keamanan yang mampu membedakan otomatisasi legal dan aktivitas berbahaya secara real-time.
Industri Travel dan Perhotelan Hadapi Risiko Lebih Besar
Meski sektor ritel masih menjadi target utama, Akamai menilai industri perjalanan dan perhotelan di Asia Pasifik menghadapi tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.
Beberapa faktor yang mendorong tingginya risiko tersebut antara lain:
- ekosistem platform perjalanan yang sangat terfragmentasi
- tingginya penggunaan aplikasi mobile
- banyaknya program loyalitas pelanggan
- lonjakan transaksi pada musim liburan seperti Imlek, Golden Week, Diwali, hingga libur akhir tahun
Selain itu, bisnis travel saat ini juga mengandalkan banyak integrasi API untuk menghubungkan sistem pembayaran, inventaris, logistik, hingga pemesanan tiket dan hotel.
Akibatnya, API menjadi salah satu titik serangan favorit pelaku kejahatan siber.
Menurut Akamai:
- sektor perjalanan menyumbang 22% serangan web terhadap perdagangan digital di APAC
- 25% serangan pada sektor perjalanan menargetkan API secara langsung.
Serangan DDoS Layer 7 Ikut Meningkat
Ancaman lain yang mengalami peningkatan signifikan adalah serangan Distributed Denial of Service (DDoS) Layer 7.
Akamai mencatat sepanjang 2025 jumlah serangan DDoS Layer 7 meningkat 39%, dari sekitar 260 miliar menjadi 361 miliar serangan.
Yang menarik, dari seluruh serangan DDoS Layer 7 yang menargetkan API:
- 51% menyerang sektor ritel
- 28% menyasar industri perhotelan
- 21% mengincar sektor perjalanan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa API kini menjadi salah satu aset digital paling krusial sekaligus paling rentan dalam ekosistem perdagangan modern.
AI Membuka Peluang Baru Sekaligus Risiko Baru
Director of Security Technology and Strategy APJ Akamai, Reuben Koh, mengatakan perusahaan di Asia Pasifik bergerak sangat cepat mengadopsi chatbot GenAI dan berbagai layanan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.
Namun menurutnya, setiap chatbot, proses pemesanan, hingga integrasi program loyalitas pada dasarnya menciptakan pintu masuk digital baru yang harus diamankan.
Ia menilai perusahaan perlu menerapkan pendekatan keamanan berbasis risiko agar mampu mengidentifikasi aktivitas berbahaya yang tersembunyi di balik otomatisasi dalam skala besar tanpa mengganggu pengalaman pelanggan.
Akamai Beri Tiga Rekomendasi untuk Bisnis Digital
Melihat meningkatnya ancaman tersebut, Akamai mendorong perusahaan untuk menjadikan ketahanan siber sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar fungsi keamanan TI.
Beberapa rekomendasi yang diberikan meliputi:
1. Memetakan rantai pendapatan digital
Perusahaan perlu mengidentifikasi seluruh API yang digunakan untuk pembayaran, loyalitas pelanggan, transaksi, inventaris, hingga integrasi mitra guna mengetahui titik-titik yang berpotensi menjadi celah keamanan.
2. Mengelola otomatisasi berdasarkan tingkat risiko
Pendekatan keamanan sebaiknya tidak lagi hanya mengandalkan keputusan “izinkan” atau “blokir”, melainkan mampu menilai tingkat risiko setiap aktivitas otomatis sehingga bot legal tetap dapat beroperasi tanpa membuka peluang bagi bot jahat.
3. Mempersiapkan lonjakan trafik musiman
Perusahaan juga disarankan meningkatkan kesiapan menghadapi lonjakan trafik pada musim belanja maupun liburan, termasuk menguji mitigasi serangan DDoS, memantau toko daring palsu, mengawasi kebocoran kredensial, serta memperkuat kolaborasi antara tim keamanan siber dan pencegahan fraud.
AI Commerce Membutuhkan Keamanan yang Lebih Adaptif
Adopsi AI diperkirakan akan terus meningkat di sektor perdagangan digital, mulai dari personalisasi pengalaman pelanggan hingga otomatisasi operasional.
Namun, laporan Akamai menunjukkan bahwa kemajuan tersebut harus diimbangi dengan strategi keamanan yang lebih adaptif. Semakin banyak layanan digital yang terhubung melalui API dan otomatisasi, semakin besar pula peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi celah yang ada.
Bagi perusahaan ritel, e-commerce, maskapai, OTA, maupun platform perhotelan, keamanan kini bukan lagi sekadar perlindungan terhadap sistem, tetapi menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan memastikan kelangsungan bisnis di era AI.


