
Harga perangkat semakin tinggi, siklus penggantian semakin panjang, dan peningkatan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak selalu signifikan. Secondary market jadi pilihan?
Data-data riset menunjukkan bawa pasar smartphone saat ini berubah signifikan. Kondisi ini membuat konsumen punya lebih banyak pertimbangan sebelum membeli smartphone. Ada yang memilih mempertahankan perangkat lama, menunda upgrade, atau, -pilihan yang risky tapi masuk akal untuk saat ini-, mencari smartphone bekas.
Pilihan terakhir akhirnya membawa kita pada pasar yang selama ini sering dianggap sekadar pasar HP bekas: secondary market.
Nilai Sebuah Smartphone Tak Berhenti Setelah Dijual
Ketika pemilik pertama menjual smartphone, perangkat tersebut tidak otomatis kehilangan nilai ekonominya.
Perangkat bisa masuk ke trade-in, buyback, toko HP second, marketplace, atau transaksi langsung antarpengguna. Setelah diperiksa dan dinilai kondisinya, perangkat dapat dijual kembali kepada pengguna berikutnya.
Inilah yang disebut secondary market.
Secara sederhana, siklusnya adalah:
Brand → pembeli pertama → trade-in/buyback → pemeriksaan → reseller → pembeli kedua.
Perangkat yang sama bahkan bisa berpindah tangan beberapa kali sebelum akhirnya tidak lagi layak digunakan dan masuk ke proses daur ulang. Dengan demikian, pasar smartphone sebenarnya memiliki dua lapisan. Ada pasar perangkat baru atau primary market, dan ada pasar perangkat yang sudah pernah digunakan atau secondary market.
Keduanya saling berkaitan. Setiap smartphone baru yang terjual berpotensi menjadi pasokan untuk pasar sekunder beberapa tahun kemudian.
Secondary Market: Tumbuh Ketika Kondisi Pasar Smartphone Baru Tertekan
Data Counterpoint Research menunjukkan, pengiriman smartphone di Indonesia pada kuartal pertama 2026 turun 9% secara tahunan.
Di sisi lain, Omdia melihat kontraksi pasar Indonesia lebih dalam: pengiriman smartphone Indonesia pada kuartal pertama 2026 turun 17% YoY menjadi sekitar 7,2 juta unit. Meski angkanya berbeda dengan Counterpoint, keduanya menunjukkan arah yang sama: pasar smartphone baru sedang mengalami tekanan. Omdia mengaitkannya dengan normalisasi inventory, kehati-hatian konsumen, tekanan harga, serta permintaan replacement yang melemah.
Perkembangan pasar global menunjukkan tren tersebut.
Beralih ke lain hal, IDC mencatat pengiriman smartphone bekas global tumbuh 3,2% pada 2025, sementara pengiriman smartphone baru hanya tumbuh sekitar 1%. IDC menyebut trade-in, peningkatan kualitas perangkat refurbished, dan umur pakai perangkat yang semakin panjang sebagai beberapa faktor pendorongnya.
Pada 2026, pertumbuhan pasar sekunder terlihat lebih kuat. CCS Insight mencatat penjualan smartphone second-hand melalui kanal terorganisasi tumbuh 4% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Mereka memperkirakan pasar secondary smartphone terorganisasi tumbuh 15,4% sepanjang 2026.
Sebaliknya, pasar smartphone baru global diproyeksikan mengalami kontraksi 14,8% pada tahun yang sama.
Angka tersebut tidak berarti konsumen berhenti membeli smartphone baru. Hubungannya lebih sederhana: ketika perangkat baru semakin mahal dan konsumen memperpanjang masa penggunaan, perangkat lama tetap memiliki nilai dan semakin menarik untuk digunakan oleh pembeli berikutnya.
Jual Beli HP Bekas yang Membentuk Ekosistem
Secondary market tidak hanya terdiri dari transaksi antara orang yang menjual HP dan orang yang membelinya. Ada beberapa model yang berkembang, mulai dari penjualan langsung, marketplace, trade-in, buyback, hingga refurbishing.
Dalam model yang lebih terorganisasi, sebuah smartphone dapat melewati beberapa tahap:
Dijual pemilik pertama → dibeli melalui trade-in atau buyback → diperiksa → dinilai kondisinya → diperbaiki jika diperlukan → dijual kembali.
Di Indonesia, ekosistem seperti ini sudah tersedia.
Laku6, misalnya, menjalankan layanan jual-beli gadget preloved dan trade-in. Perusahaan tersebut menyebut telah menjual lebih dari 500 ribu gadget dan memiliki jaringan lebih dari 1.000 lokasi retail. Ada pula platform seperti Jagofon yang fokus pada penjualan smartphone second dengan proses pemeriksaan dan grading sebelum perangkat dijual kembali.
Selain itu pasar Indonesia masih terdiri dari banyak kanal. Meski sebagian transaksi masih dilakukan melalui platform terorganisasi, sebagian lainnya masih menggunakan cara konvensional: toko HP, marketplace umum, komunitas, atau transaksi langsung. Karena itu, ukuran pasar secondary smartphone Indonesia secara keseluruhan masih sulit dihitung secara pasti.
Beda Second-Hand, Refurbished, dan Ex-Inter
Istilah HP bekas sering digunakan untuk berbagai jenis perangkat, padahal kondisinya bisa berbeda.
- Second-hand berarti perangkat pernah digunakan dan kemudian dijual kembali.
- Refurbished berarti perangkat bekas yang telah melalui proses pemeriksaan dan, -tergantung standar penjual-, perbaikan atau penggantian komponen tertentu.
- Certified refurbished biasanya mengacu pada perangkat yang telah melewati standar pemeriksaan tertentu dan mendapatkan perlindungan tambahan.
- Sementara ex-inter atau grey market lebih berkaitan dengan asal perangkat, distribusi, garansi, dan status legalitasnya.
Perbedaan ini penting karena harga sebuah perangkat tidak hanya ditentukan oleh model dan kapasitas penyimpanan. Kondisi fisik, kesehatan baterai, riwayat servis, keaslian komponen, garansi, dan status IMEI juga memengaruhi nilainya.
HP Seken Bergaransi Mulai Mengubah Pasar
Salah satu perkembangan penting di secondary market adalah munculnya HP seken bergaransi.
Model ini mencoba mengurangi risiko yang biasanya membuat konsumen ragu membeli perangkat bekas. Alih-alih membeli HP dari individu dan menanggung seluruh risiko sendiri, konsumen membeli dari platform yang melakukan pemeriksaan dan memberikan garansi dalam periode tertentu.
Jagofon, misalnya, menyatakan perangkat yang dijualnya melalui lebih dari 90 titik pemeriksaan dan pengujian, termasuk pemeriksaan IMEI. Platform tersebut juga menyediakan garansi untuk perangkat yang dijualnya.
Model seperti ini penting karena garansi pada pasar second bukan sekadar tambahan layanan. Garansi menjadi cara untuk mengurangi ketidakpastian.
Pada HP baru, kondisi perangkat relatif seragam. Pada HP bekas, dua unit dengan model yang sama bisa memiliki kondisi dan riwayat berbeda. Satu unit mungkin masih menggunakan komponen bawaan. Unit lain bisa pernah mengalami kerusakan atau penggantian komponen.
Karena itu, pemeriksaan, grading, garansi, dan kebijakan retur menjadi semakin penting dalam pasar secondary.
Kesulitan Konsumen: Tak Selalu Tahu Riwayat Perangkat
Inilah salah satu tantangan terbesar pasar HP second.
Penjual bisa mengetahui sejarah perangkat lebih banyak daripada pembeli. Seperti apakah pernah jatuh, terkena air, pernah dibogkar ata dilakukan pergantian layar, apakah baterainya masih sehat? Apakah semua komponen masih original?
Pertanyaan tersebut tidak selalu bisa dijawab hanya dengan melihat kondisi fisik. Karena itu, pasar secondary membutuhkan mekanisme untuk mengurangi perbedaan informasi antara penjual dan pembeli. Di sinilah pemeriksaan perangkat, grading, garansi, dan kebijakan retur menjadi penting.
Masalah serupa juga terjadi pada pasar refurbished global. Konsumen masih mempertimbangkan kondisi baterai, performa, kualitas komponen, dan standar pemeriksaan perangkat.
Dengan kata lain, yang dijual dalam pasar HP second bukan hanya perangkat, tetapi juga tingkat kepercayaan terhadap kondisi perangkat tersebut.
HP Second Seperti Apa yang Layak Dipertimbangkan?
Tidak semua HP bekas merupakan pilihan yang bagus.
Flagship dua atau tiga tahun lalu sering menjadi salah satu kategori menarik. Harga sudah turun, tetapi performa, kamera, layar, dan fitur utamanya masih bisa relevan.
Sebaliknya, flagship yang terlalu tua perlu diperiksa lebih hati-hati. Usia baterai, sisa dukungan software, harga suku cadang, dan biaya perbaikan bisa mengurangi keuntungan dari harga beli yang murah.
Untuk HP kelas menengah dan entry-level, perbandingan dengan harga baru menjadi semakin penting. Jika harga HP second hanya sedikit lebih murah daripada unit baru, membeli perangkat baru dengan baterai baru dan garansi resmi bisa lebih masuk akal.
Jadi, jangan menggunakan prinsip “semakin murah semakin bagus,” tapi yang penting adalah berapa banyak value yang didapat dengan harga tersebut.
Cara Membeli Smartphone Second dengan Lebih Aman
Sebelum membeli, bandingkan harga unit second dengan harga baru. Setelah itu, periksa usia perangkat dan sisa dukungan software.
Jika membeli secara langsung, periksa:
- kondisi layar dan frame
- tombol dan port pengisian
- kamera
- speaker dan mikrofon
- Wi-Fi dan Bluetooth
- jaringan seluler
- NFC jika diperlukan
- sensor dan biometrik
- kondisi baterai
- indikasi perangkat pernah dibongkar
Jangan lupa memeriksa IMEI dan asal perangkat.
Jika membeli melalui platform atau toko, perhatikan grading kondisi, masa garansi, cakupan garansi, dan kebijakan retur. Jangan hanya melihat tulisan “garansi enam bulan” atau “garansi satu tahun”. Pastikan mengetahui apa yang ditanggung dan apa yang tidak.
Garansi baterai, misalnya, belum tentu sama dengan garansi mesin atau komponen lainnya.
Pilihan Tetap Ada di Konsumen
Kondisi pasar smartphone membuat konsumen semakin perlu menghitung nilai sebelum membeli. Membeli baru tetap masuk akal jika membutuhkan perangkat terbaru, garansi penuh, atau masa penggunaan panjang. Menunda upgrade juga masuk akal jika perangkat lama masih memenuhi kebutuhan.
Sementara membeli second bisa menjadi pilihan ketika konsumen menginginkan perangkat dengan spesifikasi lebih tinggi tanpa membayar harga barunya.
Secondary market membuat pilihan ketiga semakin mudah diakses. Pasarnya juga mulai bergerak dari transaksi informal menuju ekosistem yang lebih terorganisasi dengan pemeriksaan, grading, trade-in, buyback, hingga garansi.
Keputusan membeli smartphone sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga saat membeli. Pertimbangkan juga berapa lama perangkat bisa digunakan, berapa biaya perawatannya, berapa lama dukungan software tersedia, dan berapa nilai yang masih tersisa ketika perangkat dijual kembali.
Di pasar secondary, satu perangkat bisa mendapatkan kehidupan ekonomi kedua—dan bagi konsumen, itu berarti ada lebih dari satu cara untuk mendapatkan value dari sebuah smartphone.


