
Cisco memperkenalkan pendekatan baru dalam keamanan siber untuk menjawab tantangan era AI agentic, yakni ketika perangkat lunak tidak lagi sekadar merespons perintah, tetapi juga mampu bertindak secara mandiri. Inovasi ini diumumkan dalam ajang RSA Conference 2026, menandai langkah strategis Cisco dalam membangun fondasi keamanan bagi tenaga kerja berbasis agen AI.
Dalam konsep ini, Cisco menempatkan keamanan sebagai elemen utama yang terintegrasi di setiap tindakan AI. Dengan pendekatan menyeluruh, perusahaan berupaya menghilangkan hambatan dalam adopsi teknologi agen sekaligus memastikan organisasi dapat mengimplementasikannya dengan aman dan terpercaya. Hal ini menjadi krusial mengingat berdasarkan survei internal Cisco, sebanyak 85% perusahaan telah bereksperimen dengan agen AI, namun hanya 5% yang benar-benar menggunakannya di lingkungan produksi.
Lindungi dunia dari agen: Bangun kepercayaan sebelum agen mulai bekerja
Cisco menyoroti pentingnya membangun kepercayaan terhadap agen AI sebelum teknologi tersebut dioperasikan secara luas. Layaknya karyawan baru, agen AI perlu memiliki identitas yang jelas, memahami tugasnya, serta terhubung dengan manusia yang bertanggung jawab atas operasionalnya.
Sayangnya, banyak organisasi saat ini belum memiliki visibilitas penuh terhadap agen yang berjalan dalam sistem mereka. Bahkan, dalam banyak kasus, perusahaan tidak mengetahui agen mana yang aktif atau siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya serangan yang menargetkan sistem identitas, yang diprediksi akan semakin masif seiring pertumbuhan penggunaan AI agentic.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Cisco memperluas penerapan pendekatan Zero Trust Access ke dalam ekosistem agen AI. Melalui integrasi dengan solusi seperti Duo dan Cisco Identity Intelligence, setiap agen kini dapat memiliki identitas terverifikasi yang terhubung langsung dengan pemilik manusia. Sistem ini juga memungkinkan penerapan kontrol akses yang sangat spesifik dan berbasis konteks, sehingga setiap tindakan agen dapat diawasi dan dibatasi secara ketat.
Dengan pendekatan ini, organisasi tidak hanya mendapatkan visibilitas menyeluruh terhadap aktivitas agen, tetapi juga mampu memastikan bahwa setiap aksi yang dilakukan tetap berada dalam koridor yang telah ditentukan.
Melindungi agen dari dunia luar: AI Defense melindungi tenaga kerja agentic
Selain memastikan agen tidak menjadi ancaman, Cisco juga berfokus melindungi agen dari potensi serangan eksternal. Hal ini menjadi penting karena agen AI beroperasi dalam lingkungan yang kompleks, dengan interaksi yang panjang serta akses ke berbagai sistem dan sumber daya.
Sebagai jawabannya, Cisco menghadirkan AI Defense: Explorer Edition, sebuah solusi self-service yang memungkinkan pengembang dan tim keamanan menguji ketahanan model dan aplikasi AI sebelum digunakan secara luas. Melalui pendekatan ini, organisasi dapat mensimulasikan berbagai skenario serangan seperti prompt injection atau upaya jailbreak, sekaligus mengidentifikasi potensi risiko sejak awal.
Tidak hanya itu, Cisco juga memperkenalkan Agent Runtime SDK yang memungkinkan penerapan kebijakan keamanan langsung sejak tahap pengembangan. Dengan integrasi ke berbagai platform seperti layanan cloud dan framework AI populer, keamanan tidak lagi menjadi lapisan tambahan, melainkan bagian inheren dari proses pembangunan agen.
Sebagai bagian dari upaya transparansi, Cisco turut menghadirkan LLM Security Leaderboard yang memberikan gambaran objektif terkait risiko model AI terhadap berbagai jenis serangan. Inisiatif ini membantu organisasi mengambil keputusan berbasis data dalam memilih dan mengimplementasikan teknologi AI.
Mendeteksi dan merespons dengan kecepatan mesin: Memberdayakan SOC agentic
Dalam lanskap ancaman yang semakin kompleks, Cisco menilai bahwa pendekatan keamanan tradisional tidak lagi memadai. Serangan kini berkembang dengan kecepatan tinggi, bahkan sering kali terotomatisasi menggunakan AI.
Untuk itu, Cisco melalui platform Splunk mendorong transformasi Security Operations Center (SOC) dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif. Dengan memanfaatkan agen AI, berbagai proses seperti analisis ancaman, triase insiden, hingga respons keamanan dapat dilakukan secara otomatis dan real-time.
Pendekatan ini memungkinkan tim keamanan mengurangi beban kerja manual akibat banyaknya notifikasi, sekaligus meningkatkan kecepatan dalam menangani ancaman. Agen AI tidak hanya menyajikan data, tetapi juga mampu melakukan evaluasi serta eksekusi tindakan secara langsung, sehingga operasi keamanan dapat berjalan dengan skala dan kecepatan setara mesin.
Menuju Ekonomi AI yang Aman dan Terpercaya
Dengan rangkaian inovasi ini, Cisco menegaskan posisinya dalam membangun ekosistem AI yang aman, transparan, dan dapat dipercaya. Pendekatan yang menggabungkan identitas, kontrol akses, perlindungan runtime, hingga otomatisasi respons keamanan menjadi fondasi penting dalam mendukung adopsi agentic workforce secara luas.



