Home Enterprise Studi Zebra: 8 dari 10 Retailer APAC Percaya Gen AI Jadi Kunci...

Studi Zebra: 8 dari 10 Retailer APAC Percaya Gen AI Jadi Kunci Cegah Kerugian

Transformasi digital di sektor retail semakin tidak terelakkan. Studi terbaru dari Zebra Technologies mengungkap bahwa mayoritas pelaku industri kini mulai menaruh kepercayaan besar pada teknologi Generative AI (Gen AI) dan otomatisasi untuk menjawab tantangan operasional yang semakin kompleks.

Berdasarkan laporan 18th Annual Global Shopper Study, lebih dari 8 dari 10 perusahaan retail di Asia Pasifik meyakini bahwa Gen AI akan memberikan dampak signifikan dalam pencegahan kerugian.

Kepuasan Pelanggan Menurun, Tantangan Retail Meningkat

Menariknya, adopsi teknologi ini terjadi di tengah tren penurunan kepuasan pelanggan yang berlangsung selama dua tahun terakhir.

Tingkat kepuasan belanja di toko fisik kini berada di angka 75% di Asia Pasifik, sementara untuk belanja online hanya mencapai 69%. Angka ini turun cukup jauh dibandingkan puncaknya pada 2023.

Penurunan ini tidak lepas dari berbagai masalah operasional yang masih sering ditemui di lapangan. Konsumen kerap menghadapi situasi di mana produk yang mereka cari tidak tersedia, atau justru disimpan di etalase terkunci sehingga sulit diakses. Di sisi lain, keterbatasan opsi pembayaran cepat seperti self-checkout juga memperpanjang antrean dan mengurangi kenyamanan berbelanja.

Akibatnya, hampir setengah konsumen memilih meninggalkan toko tanpa membeli semua barang yang mereka butuhkan karena pengalaman belanja yang tidak optimal.

Gen AI dan Otomatisasi Jadi Senjata Baru Retail

Di tengah tekanan tersebut, teknologi muncul sebagai solusi utama.

Sebanyak 87% pemimpin retail menilai Gen AI dan otomatisasi sebagai faktor krusial dalam mencegah kerugian. Teknologi ini tidak hanya membantu meningkatkan visibilitas inventory, tetapi juga berperan penting dalam mengurangi penyusutan stok yang selama ini menjadi masalah besar di industri retail.

Ke depan, retailer di Asia Pasifik juga menunjukkan komitmen kuat untuk mempercepat transformasi digital. Dalam lima tahun mendatang, mereka berencana mengadopsi berbagai teknologi canggih seperti computer vision, RFID, hingga Generative AI untuk memperkuat sistem operasional mereka.

Langkah ini dilakukan demi mencapai sinkronisasi inventory secara real-time, yang kini telah menjadi prioritas utama bagi sebagian besar pengambil keputusan di sektor retail.

Peran Teknologi untuk Staf Toko Makin Krusial

Bukan hanya untuk sistem, teknologi juga berperan besar dalam meningkatkan produktivitas staf di lapangan.

Sebagian besar staf toko di Asia Pasifik mengaku masih kesulitan mendapatkan informasi secara cepat saat melayani pelanggan. Kondisi ini kerap memperlambat proses pelayanan dan berdampak pada pengalaman belanja secara keseluruhan.

Namun demikian, para staf juga menyadari bahwa kehadiran teknologi yang tepat dapat membawa perubahan signifikan. Dengan dukungan tools yang lebih canggih, pekerjaan menjadi lebih efisien, tingkat stres dapat ditekan, dan kualitas interaksi dengan pelanggan pun meningkat.

Tak heran jika mayoritas staf percaya bahwa teknologi mampu membantu mereka menyelesaikan tugas dengan lebih cepat sekaligus memberikan layanan yang lebih baik.

Inventory Jadi Kunci Profitabilitas

Studi ini juga menegaskan bahwa pengelolaan inventory masih menjadi faktor paling krusial dalam menentukan performa bisnis retail.

Ketika sistem inventory berjalan optimal, dampaknya tidak hanya terasa pada operasional, tetapi juga langsung berkontribusi pada peningkatan kinerja finansial. Perusahaan retail yang berhasil memperbaiki alur kerja inventory tercatat mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas hingga 1,8 poin persentase.

Lebih jauh lagi, optimalisasi inventory kini menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong profitabilitas toko fisik. Hal ini berjalan seiring dengan meningkatnya peran otomatisasi untuk visibilitas stok secara real-time, serta pemanfaatan media retail digital untuk menarik perhatian pelanggan.

Masa Depan Retail: Phygital Experience

Ke depan, retail tidak lagi hanya soal toko fisik atau online, tetapi kombinasi keduanya—yang dikenal sebagai phygital experience.

Dalam ekosistem ini, retailer dituntut untuk menghadirkan pengalaman belanja yang cepat, mulus, dan personal. Konsumen tidak lagi membedakan kanal, melainkan mengharapkan konsistensi layanan di setiap touchpoint.

Untuk mewujudkan hal tersebut, integrasi antara AI, otomatisasi, dan alur kerja yang cerdas menjadi fondasi utama yang tidak bisa ditawar.

Kesimpulan

Studi Zebra mempertegas bahwa masa depan retail akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mengadopsi teknologi seperti Gen AI.

Dengan tekanan dari sisi pelanggan, operasional, hingga profitabilitas yang semakin kompleks, retailer yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.