
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ternyata semakin memperkuat peran media massa dalam membentuk persepsi publik. Sebuah riset terbaru dari AMATI (Asosiasi Media Teknologi Indonesia) yang dirilis di Jakarta mengungkap bahwa jawaban AI modern saat ini sangat bergantung pada informasi dan narasi yang dipublikasikan media digital.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak menciptakan opini secara mandiri, melainkan menyintesis informasi dari berbagai sumber jurnalistik yang beredar di internet. Dengan kata lain, pemberitaan media hari ini berpotensi menjadi referensi utama jawaban AI di masa mendatang.
Satu Artikel Bisa Menghasilkan Puluhan Data Intelijen
Penelitian ini dilakukan dengan mengolah 1.503 artikel dari 15 media massa selama 30 hari. Artikel-artikel tersebut membahas 12 merek teknologi besar yang aktif di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan perubahan besar dalam praktik media monitoring modern. Jika sebelumnya satu artikel hanya dianggap sebagai satu kliping pemberitaan, kini teknologi AI mampu memecah satu artikel menjadi 24 titik data intelijen yang terdiri dari analisis utama, deteksi krisis, hingga intelijen kompetitif.
Secara total, lebih dari 36 ribu titik data berhasil dihasilkan dari seluruh artikel yang dianalisis. Data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan perusahaan untuk memahami persepsi publik, arah narasi, dan dinamika komunikasi digital secara lebih mendalam.
Dominasi Narasi Media Berpengaruh pada Jawaban AI
Dalam studi kasus mengenai fitur AI di industri smartphone, riset menemukan bahwa Samsung mendominasi sekitar 64 persen narasi terkait AI di media massa Indonesia.
Dominasi pemberitaan tersebut kemudian tercermin dalam jawaban berbagai platform AI seperti OpenAI ChatGPT, Claude, dan Google Gemini ketika pengguna mencari rekomendasi smartphone dengan fitur AI terbaik. Platform-platform AI itu secara konsisten merekomendasikan lini produk Galaxy milik Samsung.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana eksposur media dapat memengaruhi pemahaman AI terhadap suatu merek maupun teknologi tertentu.
Share of Voice Dinilai Tidak Lagi Relevan
Riset tersebut juga menyoroti keterbatasan metode Share of Voice (SOV) yang selama ini umum digunakan dalam media monitoring. Pendekatan berbasis volume pemberitaan dinilai tidak lagi cukup untuk membaca kualitas pengaruh sebuah narasi di era AI.
Sebagai gantinya, perusahaan disarankan mulai menggunakan pendekatan intelijen komunikasi yang lebih mendalam seperti Narrative Health, Belief Mapping, Predictive Signal, AI Presence, dan Decision Intelligence. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mendeteksi perubahan persepsi publik hingga potensi krisis secara lebih cepat dan akurat.
Peran PR Bergeser Jadi Pengelola Narasi
Perkembangan AI juga dinilai mengubah peran praktisi Public Relations (PR). Kini, PR tidak lagi hanya bertugas menyebarkan informasi, tetapi juga mengelola makna dan narasi yang nantinya akan dipahami oleh manusia maupun AI.



