Home Smartphone Harga Memori Naik, Ini Cara Samsung, OPPO, vivo, dan Xiaomi Menyiasatinya

Harga Memori Naik, Ini Cara Samsung, OPPO, vivo, dan Xiaomi Menyiasatinya

Memori menjadi salah satu faktor biaya yang semakin penting bagi industri smartphone pada 2026. Kenaikan harga DRAM dan NAND Flash terjadi ketika permintaan dari AI dan data center meningkat, sementara produsen memori harus membagi kapasitas produksi untuk berbagai kebutuhan. Tekanan tersebut kemudian merambat ke produsen smartphone karena DRAM digunakan sebagai RAM dan NAND Flash sebagai media penyimpanan internal perangkat.

Pada awal Februari 2026, TrendForce memperkirakan harga kontrak LPDDR4X dan LPDDR5X, dua jenis DRAM yang banyak digunakan smartphone, masing-masing meningkat sekitar 90% secara kuartalan pada Q1 2026. Pada periode yang sama, conventional DRAM diperkirakan naik 90–95% QoQ, sedangkan NAND Flash naik 55–60% QoQ. Angka tersebut merupakan perubahan harga kontrak komponen di tingkat industri, sehingga tidak dapat diterjemahkan langsung sebagai kenaikan harga smartphone dengan persentase yang sama.

Tekanan tersebut berlanjut pada kuartal kedua. TrendForce memperkirakan harga LPDDR4X meningkat sekitar 70–75% QoQ, sementara LPDDR5X naik 78–83% QoQ. Pada Q3, kenaikannya diperkirakan lebih moderat, tetapi harga memori belum kembali ke kondisi sebelum lonjakan. TrendForce memproyeksikan conventional DRAM naik 13–18% QoQ dan NAND Flash 10–15% QoQ pada kuartal ketiga.

Kondisi tersebut membuat produsen smartphone harus mengatur kembali cara mereka mengelola biaya. Kenaikan harga memori dapat diteruskan kepada konsumen melalui harga jual, diserap sebagian melalui margin, dikompensasi dengan perubahan konfigurasi atau portfolio, maupun dikombinasikan dengan strategi lain. Yang menarik, respons masing-masing produsen ternyata tidak sama.

Mengapa harga memori naik?

Akar persoalannya berada pada perubahan permintaan di industri semikonduktor. Pertumbuhan infrastruktur AI meningkatkan kebutuhan terhadap HBM dan server DRAM. Pada saat yang sama, produksi HBM membutuhkan kapasitas wafer yang juga digunakan dalam ekosistem DRAM. Ketika produsen mengalokasikan lebih banyak kapasitas untuk produk yang dibutuhkan AI server, pasokan untuk aplikasi lain menjadi lebih ketat.

TrendForce memperkirakan pada akhir 2026 sekitar 22% wafer input DRAM dari tiga produsen besar akan dialokasikan untuk HBM, naik dari sekitar 18% pada akhir 2025. Porsi tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 30% pada 2027. TrendForce menilai meningkatnya kebutuhan HBM akan memperbesar efek crowding-out terhadap conventional DRAM.

Artinya, persoalannya bukan karena AI menggunakan LPDDR smartphone secara langsung. HBM, server DRAM, dan LPDDR merupakan produk yang berbeda. Persoalannya adalah kapasitas produksi yang saling berkaitan. Ketika sebagian kapasitas semakin banyak diarahkan ke kebutuhan AI dan server, mobile DRAM ikut menghadapi ruang pasokan yang lebih terbatas.

Dampaknya terhadap smartphone cukup signifikan. TrendForce pada Mei menyebut kenaikan harga mobile DRAM dalam beberapa kuartal telah meningkatkan beban biaya produsen smartphone dan mulai memaksa perubahan konfigurasi. Pada kelas high-end, konfigurasi 12 GB semakin menjadi standar, sementara adopsi 16 GB menurun. Di kelas menengah, 8 GB kembali menjadi konfigurasi utama, sedangkan perangkat entry-level cenderung berada di sekitar 4 GB. Menariknya, rata-rata kapasitas DRAM per smartphone tetap diproyeksikan naik menjadi sekitar 8,5 GB pada 2026, karena perangkat dengan RAM 2 GB dan 3 GB semakin ditinggalkan.

Dengan demikian, tidak tepat jika kondisi ini disederhanakan menjadi “harga RAM naik sehingga semua smartphone akan memakai RAM lebih kecil”. Yang terjadi lebih kompleks. Produsen harus menentukan konfigurasi yang masih dapat dipertahankan pada setiap kelas harga sambil menjaga biaya produksi dan daya tarik produk.

Dari biaya komponen menjadi persoalan harga smartphone

Ketika harga DRAM dan NAND meningkat, dampaknya masuk ke bill of materials atau BOM smartphone. TrendForce sebelumnya memperkirakan biaya memori pada konfigurasi mainstream 8 GB RAM dan 256 GB storage meningkat sangat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga porsi memori dalam BOM perangkat dapat meningkat jauh dari kondisi historis.

Namun, BOM bukanlah harga jual. Selain memori, smartphone membutuhkan chipset, layar, kamera, baterai, casing, komponen konektivitas, biaya perakitan, distribusi, pemasaran, pajak, dan margin. Karena itu, kenaikan harga memori tidak dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh kenaikan harga sebuah smartphone.

Yang bisa diamati adalah bagaimana produsen menyesuaikan produk ketika biaya komponen berubah. Dalam konteks tersebut, perkembangan produk Samsung, OPPO, vivo, dan Xiaomi di Indonesia memberikan beberapa contoh yang cukup jelas. Kita bahas beberapa use case dari produk mereka.

Samsung: harga naik, konfigurasi RAM tetap tersedia

Samsung Indonesia memperlihatkan salah satu bentuk penyesuaian yang paling mudah diamati melalui Galaxy A Series.

Galaxy A56 5G yang diperkenalkan di Indonesia pada 2025 tersedia dalam konfigurasi 8 GB + 128 GB seharga Rp6,199 juta, 8 GB + 256 GB seharga Rp6,699 juta, dan 12 GB + 256 GB seharga Rp7,199 juta.

Setahun kemudian, Galaxy A57 5G tersedia dalam konfigurasi 8 GB + 128 GB dengan harga Rp7,599 juta, 8 GB + 256 GB seharga Rp8,299 juta, dan 12 GB + 256 GB seharga Rp8,999 juta berdasarkan halaman pembelian resmi Samsung Indonesia.

Jika konfigurasi 8 GB + 256 GB dibandingkan, harga bergerak dari Rp6,699 juta menjadi Rp8,299 juta, atau naik sekitar 23,9%. Pada konfigurasi 12 GB + 256 GB, harga meningkat dari Rp7,199 juta menjadi Rp8,999 juta, atau sekitar 25%.

Perubahan tersebut tidak bisa seluruhnya disebut sebagai akibat kenaikan harga memori karena Galaxy A57 juga membawa perubahan pada berbagai komponen dan fitur. Namun, dari sisi konfigurasi, Samsung tetap menyediakan pilihan 12 GB + 256 GB. Artinya, pada lini ini, perubahan harga tidak disertai pengurangan kapasitas RAM pada konfigurasi tertinggi.

Pola tersebut dapat dibaca sebagai salah satu bentuk price pass-through, yaitu meneruskan sebagian tekanan biaya ke harga produk sambil mempertahankan konfigurasi yang dianggap penting untuk positioning perangkat. Ini juga berlangsung ketika Samsung relatif lebih mampu mempertahankan performanya di pasar Indonesia. Counterpoint mencatat shipment Samsung tumbuh 8% YoY pada Q1 2026, sementara pasar smartphone Indonesia secara keseluruhan turun 9%. Counterpoint mengaitkannya antara lain dengan stabilitas pasokan dan momentum Galaxy S26 di segmen premium.

OPPO: mengatur struktur produk melalui Reno16 Series

OPPO Indonesia menunjukkan pendekatan yang berbeda. Pada 2026, OPPO telah membawa Reno16 Series ke Indonesia yang terdiri dari Reno16 Pro 5G, Reno16 5G, dan Reno16 F 5G. Program penjualan resminya dimulai pada Juli 2026.

Reno16 5G tersedia dalam konfigurasi 8 GB + 256 GB dan 12 GB + 256 GB dengan LPDDR5X dan UFS 3.1. Harga resminya masing-masing Rp11,999 juta dan Rp12,999 juta. Sementara Reno16 F tersedia dengan konfigurasi 8 GB + 128 GB dan 8 GB + 256 GB, dengan harga mulai Rp7,999 juta.

Perbandingan dengan Reno15 menunjukkan bahwa kenaikan harga pada generasi baru cukup besar. Reno15 5G sebelumnya dijual Rp7,699 juta untuk konfigurasi 8 GB + 256 GB dan Rp8,299 juta untuk 12 GB + 256 GB. Reno16 5G masing-masing menjadi Rp11,999 juta dan Rp12,999 juta. Dengan konfigurasi yang sama, kenaikannya lebih dari 50%.

Tetapi kenaikan tersebut juga perlu dibaca bersama perubahan produk. Reno16 membawa platform dan fitur yang berbeda dari Reno15, sehingga tidak tepat menganggap selisih harga tersebut sebagai biaya memori semata. Yang lebih relevan untuk pembahasan kita adalah struktur portfolio yang dibangun OPPO.

OPPO tetap menyediakan 12 GB + 256 GB pada Reno16 5G, tetapi menyediakan Reno16 F sebagai pilihan dengan konfigurasi dan harga lebih rendah. Dengan demikian, perusahaan memiliki beberapa titik harga dalam satu keluarga produk tanpa harus mempertahankan konfigurasi yang sama pada seluruh model.

Strategi ini juga sejalan dengan kondisi pasar Indonesia. Counterpoint mencatat OPPO tetap menjadi pemimpin pasar pada Q1 2026 meskipun shipment-nya turun 24% YoY. Menurut Counterpoint, portfolio mid-range yang lebih luas membantu mengurangi dampak kenaikan biaya komponen.

Dalam konteks artikel ini, OPPO lebih tepat disebut melakukan portfolio segmentation daripada sekadar memangkas RAM. Konsumen yang membutuhkan konfigurasi lebih tinggi diarahkan ke Reno16, sementara titik harga yang lebih rendah tetap tersedia melalui Reno16 F.

vivo: V70 naik kelas, V70 FE menjaga titik masuk

vivo Indonesia memperlihatkan pola yang berbeda melalui V Series. Untuk membandingkan generasi yang relevan di Indonesia, V60 2025 lebih tepat digunakan sebagai pembanding V70 2026.

vivo V60 tersedia dalam konfigurasi 8 GB + 256 GB seharga Rp6,999 juta, 12 GB + 256 GB seharga Rp7,499 juta, dan 12 GB + 512 GB seharga Rp8,499 juta. V60 menggunakan LPDDR4X dan UFS 2.2.

Pada 2026, vivo V70 hadir dengan konfigurasi 12 GB + 256 GB seharga Rp8,999 juta. Perangkat tersebut menggunakan LPDDR5X dan UFS 4.1. vivo juga menyediakan V70 FE dengan konfigurasi 8 GB + 256 GB seharga Rp6,499 juta, 12 GB + 256 GB seharga Rp7,199 juta, serta 8 GB + 512 GB seharga Rp7,399 juta.

Jika konfigurasi 12 GB + 256 GB dibandingkan, harga V60 sebesar Rp7,499 juta meningkat menjadi Rp8,999 juta pada V70, atau sekitar 20%. Namun, V70 membawa sejumlah peningkatan lain, termasuk platform Snapdragon 7 Gen 4, LPDDR5X, UFS 4.1, serta sistem kamera telefoto ZEISS. Karena itu, kenaikan harga tidak dapat dikaitkan hanya dengan memori.

Yang lebih menarik adalah keberadaan V70 FE. Dengan harga mulai Rp6,499 juta, vivo mempertahankan titik masuk V Series di kisaran harga yang tidak terlalu jauh dari V60. Bahkan V70 FE 12 GB + 256 GB dibanderol Rp7,199 juta, hanya sekitar Rp300 ribu lebih rendah daripada V60 12 GB + 256 GB ketika diluncurkan.

Dari sisi portfolio, pola ini menunjukkan premiumisasi sekaligus segmentasi. V70 menjadi model utama dengan positioning lebih tinggi, sedangkan V70 FE menyediakan alternatif bagi konsumen yang lebih sensitif terhadap harga. Tidak ada pernyataan resmi vivo yang menyebut struktur tersebut dibuat khusus sebagai respons terhadap kenaikan harga memori, sehingga lebih aman melihatnya sebagai strategi portfolio yang berlangsung dalam lingkungan biaya komponen yang lebih tinggi.

Xiaomi: T Series mempertahankan 12 GB, tetapi harga dan platform berubah

Untuk Xiaomi, perbandingan yang paling relevan bukan hanya Xiaomi 15 dan Xiaomi 17, tetapi juga Xiaomi 15T Series dan Xiaomi 17T Series. Seri T penting karena berada di antara flagship utama dan perangkat yang lebih berorientasi value.

Xiaomi Indonesia mencantumkan Xiaomi 15T dalam konfigurasi 12 GB + 256 GB dan 12 GB + 512 GB, menggunakan LPDDR5X dan UFS 4.1. Harga 12 GB + 256 GB di Indonesia berada di Rp6,999 juta pada saat pemasaran awal.

Pada 2026, Xiaomi 17T juga mempertahankan konfigurasi 12 GB. Model ini tersedia dalam 12 GB + 256 GB dan 12 GB + 512 GB, menggunakan LPDDR5X dengan kecepatan hingga 9.600 Mbps serta UFS 4.1. Harga resmi Xiaomi Indonesia untuk 12 GB + 256 GB adalah Rp8,999 juta.

Dengan konfigurasi 12 GB + 256 GB sebagai pembanding, harga bergerak dari Rp6,999 juta pada Xiaomi 15T menjadi Rp8,999 juta pada Xiaomi 17T, atau naik sekitar 28,6%. Namun, Xiaomi 17T juga membawa perubahan platform yang cukup besar, termasuk Dimensity 8500-Ultra, baterai silikon-karbon 6.500 mAh, dan sistem kamera Leica. Karena itu, kenaikan harga tidak dapat dianggap sebagai akibat kenaikan harga memori saja.

Pola yang sama terlihat pada lini Pro. Xiaomi 15T Pro menggunakan RAM 12 GB LPDDR5X dan storage UFS 4.1, sedangkan Xiaomi 17T Pro juga mempertahankan RAM 12 GB dengan pilihan storage hingga 512 GB. Xiaomi 17T Pro di Indonesia dibanderol mulai Rp11,999 juta untuk 12 GB + 256 GB dan Rp12,999 juta untuk 12 GB + 512 GB.

Artinya, Xiaomi tidak merespons lingkungan memori mahal dengan mengurangi RAM pada T Series. Kapasitas 12 GB tetap menjadi bagian dari positioning produk. Penyesuaian lebih terlihat pada harga dan keseluruhan paket hardware yang ditawarkan.

Hal tersebut juga berlaku pada flagship utama. Xiaomi 15 menggunakan 12 GB + 256 GB atau 12 GB + 512 GB dengan LPDDR5X dan UFS 4.0, sedangkan Xiaomi 17 tetap menyediakan 12 GB + 256 GB dan 12 GB + 512 GB dengan LPDDR5X dan UFS 4.1. (Mi)

Dengan demikian, Xiaomi menjadi contoh bahwa harga memori yang tinggi tidak otomatis membuat produsen memangkas RAM pada produk dengan positioning lebih tinggi. Selama kapasitas tersebut masih dianggap penting untuk value proposition, produsen dapat mempertahankannya dan mengelola kenaikan biaya melalui harga maupun komponen lain.

Empat brand, empat cara beradaptasi

Jika empat case study tersebut disandingkan, terlihat bahwa tidak ada satu strategi tunggal dalam menghadapi kenaikan biaya memori. Samsung pada Galaxy A57 terlihat meneruskan sebagian perubahan biaya melalui harga sambil mempertahankan konfigurasi memori tertentu. OPPO menggunakan struktur Reno16, Reno16 Pro, dan Reno16 F untuk menciptakan beberapa tingkat produk dan harga. vivo menaikkan positioning V70 sambil mempertahankan titik masuk yang lebih rendah melalui V70 FE. Sementara Xiaomi mempertahankan RAM 12 GB pada lini T Series dan flagship sambil menaikkan harga serta memperbarui platform perangkat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa respons produsen terhadap harga memori tidak selalu berupa pengurangan RAM. Penyesuaian dapat dilakukan melalui harga, jumlah SKU, konfigurasi RAM dan storage, positioning, maupun kombinasi komponen lain.

Yang juga penting, kita tidak bisa menyatakan bahwa setiap perubahan tersebut pasti disebabkan oleh harga memori. Tidak ada cukup bukti publik untuk menghubungkan setiap kenaikan harga atau perubahan spesifikasi pada masing-masing model secara langsung dengan DRAM atau NAND. Yang dapat dikatakan adalah bahwa perubahan tersebut terjadi ketika industri sedang menghadapi tekanan biaya memori yang besar, dan pola responsnya sejalan dengan strategi yang diamati oleh market tracker.

Beda Dampak Kenaikan Harga Memori di Entry Level dan Premium

Pasar smartphone Indonesia sendiri saat ini tengah mengalami kontraksi. Menurut Counterpoint, shipment smartphone Indonesia turun 9% YoY pada Q1 2026 karena kenaikan harga perangkat yang berkaitan dengan krisis pasokan memori membuat konsumen menunda upgrade. OPPO tetap menjadi pemimpin pasar meskipun shipment turun 24%, Xiaomi memiliki pangsa 21%, sementara Samsung mencatat pertumbuhan 8%.

Counterpoint juga menemukan perbedaan yang cukup jelas berdasarkan segmen harga. Smartphone dengan harga di bawah US$150 turun 19% YoY, sedangkan segmen premium di atas US$600 tumbuh 30% dan mencapai pangsa 8,3% dari shipment Indonesia.

Perbedaan ini dapat dijelaskan dari struktur biaya. Smartphone entry-level memiliki ruang margin yang lebih terbatas, sehingga kenaikan biaya komponen lebih sulit diserap tanpa menaikkan harga jual atau mengubah konfigurasi. Pada perangkat premium, biaya komponen yang sama memiliki proporsi lebih kecil terhadap harga akhir sehingga produsen memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan spesifikasi atau menyerap sebagian kenaikan.

Data tersebut juga memperlihatkan mengapa strategi portfolio menjadi semakin penting. Produsen tidak hanya perlu menentukan berapa banyak RAM yang digunakan, tetapi juga harus menentukan produk mana yang dipertahankan, berapa banyak konfigurasi yang ditawarkan, dan di rentang harga mana mereka ingin berkompetisi.

Empat brand yang kita lihat memberikan gambaran mengenai pilihan tersebut. Samsung menunjukkan bagaimana kenaikan harga dapat diteruskan sambil mempertahankan konfigurasi tertentu. OPPO menggunakan segmentasi Reno16 Series untuk menyediakan beberapa tingkat harga dan spesifikasi. vivo menaikkan positioning V70 sambil menjaga titik masuk melalui V70 FE. Xiaomi mempertahankan RAM 12 GB pada T Series dan flagship sambil mengubah platform dan harga.