Home Review Digagas Apple, (Sedang) Disempurnakan Samsung

Digagas Apple, (Sedang) Disempurnakan Samsung

Bagaimana Galaxy Z Fold8 MENGINGATKAN KAMI TENTANG FILOSOFI Personal Digital Assistant yang Diperkenalkan APPLE 30 Tahun Lalu

Semua bermula pada Januari 1992 yang dingin di Las Vegas, Nevada.

Kota yang kerap dijuluki Sin City karena memadukan judi dan hiburan duniawi ini tetiba jadi edgy saat menghelat ajang Consumer Electronics Show (CES). Selain jadi arena perang konsol Nitendo dan SEGA, untuk pertama kalinya Apple hadir dan memperkenalkan sebuah filosofi yang kelak akan menjadi blue print bagi perjalanan komputasi saku pintar hingga beberapa dekade kemudian.

Adalah John Sculley, pria pendiam dengan otak yang selalu berisik memikirkan banyak hal. Bersama Steve Jobs sang legenda, ia adalah CEO sekaligus Chairman Apple Computer saat itu. Sambil mengacungkan sebuah perangkat seukuran kalkulator, untuk pertama kalinya ia menggemakan istilah baru: Personal Digital Assistant (PDA).

Meski kelak Newton MessagePad, -perangkat yang diacungkan Sculley di CES 1992-, ini tak laku, namun penyebutan istilah Personal Digital Assistant menjadi titik dimulainya perburuan ide akan perangkat pendamping pintar yang ideal.

Apple Newton MessagePad

Assistant, Bukan Organizer

Jika diperhatikan, Apple tidak menyebut perangkat tersebut sebagai Personal Digital Computer ataupun Personal Digital Organizer. Kata yang dipilih justru Assistant.

Pilihan tersebut menggambarkan ambisi Apple sejak awal. Newton bukan sekadar komputer kecil yang bisa dibawa ke mana-mana, tetapi perangkat yang diharapkan mampu menjadi pendamping digital bagi penggunanya. Ia dirancang untuk menyimpan jadwal, mengenali tulisan tangan melalui stylus, mengelola kontak, membuat catatan, hingga membantu aktivitas sehari-hari.

Dengan kata lain, Apple ingin menciptakan sesuatu yang lebih personal dibanding komputer, sekaligus lebih aktif dibanding organizer elektronik.

Sayangnya, teknologi pada awal 1990-an belum mampu mengimbangi ambisi tersebut.

Prosesor yang masih lambat, kapasitas memori terbatas, baterai belum efisien, sementara fitur pengenalan tulisan tangan yang menjadi andalannya kerap menghasilkan interpretasi yang keliru. Newton akhirnya lebih dikenal sebagai perangkat yang memiliki visi besar, tetapi lahir terlalu dini.

Meski demikian, satu warisan penting tetap ditinggalkan Apple: filosofi di balik peeybutan Personal Digital Assistant.

Palm, Pocket PC, BlackBerry hingga Smartphone Melanjutkan Perjalanan

HP iPaq

Industri teknologi setelah itu tidak berhenti mencoba. Sepanjang akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an, berbagai perusahaan menghadirkan interpretasi mereka sendiri mengenai PDA.

Palm menjadi salah satu yang paling sukses melalui Palm Pilot, perangkat yang sederhana, ringan, dan memiliki daya tahan baterai sangat baik. Palm lebih fokus membantu pengguna mengelola jadwal, daftar pekerjaan, kontak, serta catatan harian.

Di Eropa, Psion Series menawarkan pendekatan berbeda dengan keyboard fisik yang nyaman digunakan untuk mengetik dokumen.

Microsoft kemudian menghadirkan Windows CE dan Pocket PC, memungkinkan perangkat seperti XDA O2, HP iPAQ, Compaq iPAQ, Dell Axim, dan HP Jornada menjalankan Word, Excel, Outlook, hingga browser layaknya komputer mini.

Sementara itu, Nokia menghadirkan Communicator Series yang mulai menggabungkan konsep PDA dengan telepon seluler. BlackBerry menyempurnakan komunikasi melalui layanan push email yang menjadi standar baru bagi kalangan profesional.

Keterbatasan yang Masih Sama

Semua perangkat yang disebut di atas memiliki tujuan yang sama: membuat pekerjaan menjadi lebih praktis tanpa harus bergantung pada komputer desktop. Namun jika kembali pada filosofi awal yang diperkenalkan Apple, semuanya masih memiliki keterbatasan yang sama.

Mereka memang digital, juga personal. Tetapi belum benar-benar menjadi assistant.

Palm tidak bisa membantu menyusun agenda, melainkan hanya menyimpan jadwal yang dimasukkan pengguna. Pocket PC dapat membuka dokumen Office, tetapi pengguna tetap harus membaca dan memahami seluruh isinya sendiri. sementara BlackBerry mempermudah pengiriman email, tetapi tidak membantu menyusun balasan atau merangkum percakapan.

Dengan kata lain, hampir seluruh perangkat tersebut masih bersifat pasif. Mereka menunggu perintah, bukan membantu menyelesaikan pekerjaan.

Menariknya, Bentuknya Mirip

Ada satu kesamaan lain yang sering terlupakan: PDA klasik menggunakan desain yang relatif lebar dengan rasio layar 3:4 yang mendekati persegi.

Palm Pilot misalnya memiliki rasio layar sekitar 4:3. Begitu pula Pocket PC seperti HP iPAQ maupun Dell Axim. Bentuk tersebut dipilih karena lebih nyaman untuk membaca dokumen, melihat kalender, maupun mengelola informasi dibanding layar yang memanjang.

Ketika smartphone berkembang, pendekatan itu berubah. Demi kenyamanan penggunaan satu tangan, layar smartphone menjadi semakin tinggi dan ramping. Rasio 18:9, 19,5:9 hingga 21:9 menjadi standar baru.

Konsekuensinya, pengalaman produktivitas ikut berubah.

Membuka dua aplikasi sekaligus terasa sempit. Membaca dokumen panjang membutuhkan lebih banyak gerakan jari untuk scrolling.

Spreadsheet tidak lagi nyaman dilihat tanpa memperbesar tampilan. Tanpa disadari, smartphone memang mengambil alih fungsi PDA, tetapi tidak sepenuhnya mempertahankan pengalaman yang dahulu menjadi kekuatannya.

Galaxy Z Fold8 Mengembalikan Bentuk, Sekaligus Maknanya

Ketika Samsung memperkenalkan lini Galaxy Fold beberapa tahun lalu, mata tech-die hard banyak perhatian tertuju pada teknologi layar lipatnya.

Namun jika dilihat dari perspektif perkembangan komputasi mobile, ada hal lain yang lebih menarik. Galaxy Z Fold8 secara tidak langsung menghidupkan kembali dua karakter utama PDA.

Yang pertama adalah form factor.

Saat dibuka, layar utama Galaxy Z Fold8 kembali menghadirkan bidang kerja yang mendekati persegi. Proporsinya terasa lebih akrab dengan PDA klasik dibanding smartphone modern yang memanjang.

Bentuk seperti ini memberikan ruang yang jauh lebih nyaman untuk membaca dokumen, membuka presentasi, melihat spreadsheet, hingga menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.

Itu baru sepertiga cerita. Yang lebih menarik adalah bagaimana Galaxy Z Fold8 akhirnya mampu mendekati makna asli dari kata Assistant.

Jika pada era Palm pengguna hanya bisa mencatat jadwal, kini AI dapat membantu menyusun agenda berdasarkan konteks. Jika Pocket PC hanya membuka dokumen, Galaxy AI mampu merangkum isi dokumen, menerjemahkan, hingga membantu menyusun poin-poin penting.

Jika dahulu pengguna harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, kini berbagai tugas dapat dilakukan dalam satu ruang kerja yang lebih luas melalui fitur multitasking.

Perubahan ini juga didukung oleh ekosistem teknologi yang jauh lebih matang dibanding era PDA.

Chipset modern memungkinkan pemrosesan AI dilakukan dengan cepat. Layar lipat AMOLED memberikan area kerja yang luas tanpa membuat perangkat sulit dibawa. Sedangkan kamera berkualitas tinggi mampu menangkap dokumen, papan presentasi, maupun objek lain untuk langsung diproses AI.

Konektivitas 5G dan Wi-Fi berkecepatan tinggi membuat sinkronisasi cloud berlangsung nyaris tanpa jeda. Perangkat lunak juga berkembang jauh lebih matang, memungkinkan perpindahan antar aplikasi, drag-and-drop, hingga integrasi AI ke aplikasi berlangsung secara mulus.

Semua elemen tersebut saling melengkapi, bukan lagi sekadar menghadirkan perangkat yang mampu menyimpan informasi, tetapi perangkat yang mulai membantu memahami dan mengolah informasi.

Agak ironis mungkin, Fold8 mungkin perangkat yang sejak awal dibayangkan Apple ketika memperkenalkan istilah Personal Digital Assistant lebih dari tiga dekade lalu.

Ke Mana Arah Berikutnya?

Perjalanan form factor lipat masih panjang.

Harga perangkat masih relatif tinggi dibanding smartphone konvensional, daya tahan layar lipat terus disempurnakan, sementara ekosistem aplikasi juga masih beradaptasi agar benar-benar memanfaatkan ego rasio layar yang berbeda.

Di sisi lain, perkembangan AI bergerak jauh lebih cepat daripada perangkat keras. Peran AI sendiri akan bergeser dari sekadar membantu menjalankan perintah menjadi agen yang mampu menyelesaikan serangkaian tugas secara mandiri, mulai dari merangkum informasi, mengatur agenda, mengatur perangkat menjadi lebih fit dengan kebutuhan pengguna hingga berinteraksi dengan berbagai aplikasi tanpa campur tangan sang tuan.

Jika skenario itu terwujud, perangkat dengan form factor seperti Galaxy Z Fold8 berada pada posisi yang menarik. Format panjang-lebar layar yang demikian memberi ruang bagi AI untuk bekerja berdampingan dengan pengguna, bukan umumnya pop-up di layar smartphone yang sempit. Pengalaman menggunakan perangkat pun bisa bergeser, dari membuka aplikasi satu per satu menjadi berkolaborasi dengan asisten digital yang benar-benar memahami konteks pekerjaan.

Setelah tiga puluh tahun lalu John Sculley menggaungkan istilah Personal Digital Assistant, industri akhirnya mulai mendekati makna yang sesungguhnya, melalui Galaxy Z Fold8.