
Adopsi kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan global terus meningkat pesat. Namun di balik optimisme tersebut, sebuah laporan terbaru mengungkap realitas yang cukup kontras: mayoritas organisasi ternyata masih menghadapi hambatan mendasar dalam pengelolaan data.
Cloudera melalui laporan The Data Readiness Index: Understanding the Foundations for Successful AI menemukan bahwa sekitar 80% perusahaan mengakui inisiatif AI mereka masih terhambat oleh keterbatasan akses data lintas lingkungan. Hal ini memunculkan fenomena yang disebut sebagai AI readiness illusion, di mana perusahaan merasa siap mengadopsi AI, padahal fondasi datanya belum memadai.
Adopsi Tinggi, Dampak Bisnis Belum Terasa
Secara global, sebanyak 96% organisasi mengaku telah mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis utama, dan 85% menyatakan memiliki strategi data yang jelas. Namun, implementasi tersebut belum sepenuhnya menghasilkan dampak bisnis yang signifikan.
Beberapa kendala utama yang menghambat optimalisasi AI antara lain kualitas data yang belum memadai (22%), pembengkakan biaya (16%), serta integrasi yang kurang efektif dengan sistem kerja yang ada (15%).
Chief Technology Officer Cloudera, Sergio Gago, menegaskan bahwa keberhasilan AI sangat bergantung pada kualitas dan akses data.
“AI hanya seefektif data yang mendukungnya. Tanpa akses data yang mulus, organisasi akan kesulitan menghasilkan nilai bisnis yang maksimal,” ujarnya.
Kesenjangan Besar di Indonesia
Di Indonesia, kesenjangan antara persepsi dan realitas kesiapan data terlihat semakin jelas. Meskipun 100% pemimpin IT mengaku yakin terhadap data yang dimiliki organisasi mereka, hanya 26% yang menyatakan data tersebut telah sepenuhnya terkelola dengan baik.
Masalah lain yang turut menghambat antara lain keterbatasan visibilitas data (48%), resistensi budaya dalam berbagi data (52%), serta silo data yang masih terjadi (26%). Kondisi ini membuat implementasi AI sulit untuk diskalakan secara optimal.
Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta, menilai bahwa tantangan ini harus segera diatasi agar perusahaan dapat memaksimalkan potensi AI.
“Untuk benar-benar mencapai ROI dari AI, organisasi perlu menghilangkan silo data dan meningkatkan visibilitas secara menyeluruh,” jelasnya.
Infrastruktur dan Tata Kelola Jadi Kunci
Selain akses data, faktor infrastruktur juga menjadi tantangan signifikan. Sekitar 73% responden menyebut kendala performa sebagai penghambat dalam operasional AI, terutama ketika harus berjalan di lingkungan yang kompleks dan terfragmentasi.
Di sisi lain, tata kelola data yang belum optimal memperparah situasi. Meskipun 84% responden percaya pada kualitas data mereka, hanya 18% yang benar-benar memiliki data yang sepenuhnya terkelola.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap data sering kali tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Kesiapan Data Tentukan Masa Depan AI
Ke depan, kesiapan data akan menjadi faktor pembeda utama antara perusahaan yang berhasil mengimplementasikan AI secara efektif dan yang tertinggal. Organisasi yang mampu mengelola, mengakses, dan mengintegrasikan data secara menyeluruh akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.
Laporan ini juga mencatat bahwa seluruh responden menyatakan kesiapan untuk mengadopsi kerangka tata kelola baru guna meningkatkan kesiapan data mereka.
Dengan kata lain, era AI bukan lagi soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi siapa yang paling siap dalam mengelola data sebagai fondasi utamanya.



