Home Entertainment Review Film “Clouds” : Karena Hidup Layak untuk Diperjuangkan

Review Film “Clouds” : Karena Hidup Layak untuk Diperjuangkan

Apa yang akan dilakukan saat seseorang tahu bahwa ajalnya sudah dekat? Jika hidup berakhir, mimpi-mimpi indahnya juga ikut terkubur. Hanya sedikit orang yang berjuang dan tidak menyerah meskipun malaikat maut berada di ujung pintu.

Zachary David Sobiech, remaja pinggiran kota kecil Lakeland, Minnesota, Amerika Serikat, adalah salah satu yang berjuang dan pantang menyerah itu. Remaja yang terlahir dari rahim Laura Sobiech ini didiagnosis menderita Osteosarcoma, sejenis kanker tulang langka yang sering menyerang penderita remaja di bawah usia 20 tahun.

Kisah nyata perjuangan Zach menghadapi osteosarcoma, dan bagaimana ia menghasilkan masterpiece lagu “Clouds” itu, berhasil diadaptasi secara apik oleh sutradara Justin Baldoni dalam film layar lebar bertajuk sama, “Clouds”.

Tak mudah bagi Justin Baldoni untuk menyelami setiap tetes air mata Laura Sobiech yang menuliskan kisah sang putra dalam sebuah memoir. Belum lagi, Justin harus menggambarkan kekuatan dahsyat lagu Clouds yang melesat ke nomor 1 di iTunes, dan telah diputar lebih dari 20 juta kali.

“Clouds” sendiri merupakan lagu yang diciptakan Zach Sobiech dan Sammy Brown. Keduanya membentuk duo grup A Firm Handshake. Lagu ini dirilis pada 2013 melalui mini album Fix Me Up, atau beberapa bulan sebelum kematian Zach pada 20 Mei 2013.

“Kemegahan” lagu Clouds dan perjuangan Zach menghadapi osteosarcoma, juga menjadi tantangan bagi Warner Bros. Jika memoir Laura Sobiech mampu menguras air mata dunia, film Clouds tentu saja harus memenuhi ekspektasi yang sama.

Upaya Justin Baldona dan totalitas Fin Argus yang memerankan Zach dalam film bergenre drama musikal ini patut diacungi jempol. Aktris senior Neve Campbell, juga tampil maksimal memerankan Laura Sobiech. Demikian juga Sabrina Carpenter (Sammy Brown), dan Madison Iseman (Amy Adamle).

Di babak awal, penampilan Zach yang tanpa rambut akibat penyakitnya sudah menguras kepedihan. Apalagi dengan vonis umur yang tidak lama lagi, Zach masih bisa mencabik dawai gitar dan melantunkan lagu indah.

Kondisi kesehatan Zach yang terus memburuk tersaji dramatis, sebuah alur yang mudah ditebak sebenarnya, namun tetap saja menguras air mata. Hasil scan medis yang menunjukkan bahwa kanker sudah menggerogoti paru-paru Zach hingga bocor dan menekan jantungnya, digambarkan cukup mencekam.

Alur cerita menuju klimaks, setelah dokter menyatakan Zach berada pada stadium akhir kanker dan hanya bisa bertahan dalam enam sampai sepuluh bulan. Di saat kritis, Zach masih harus menyelesaikan tugas esai dari sekolahnya.

Pikiran Zach berkecamuk den gan pertanyaan-pertanyaan menjemukan. Apa yang ingin kamu capai di perkuliahan? Apa yang ingin kamu lakukan begitu masuk ke sana? Apa yang mau kamu perbuat dengan hidup yang liar dan berharga yang hanya sekali ini?

Kehadiran Amy (Madison Iseman) dalam film ini menjadi penyeimbang, sehingga film ini tidak hanya melulu mengungkap “kesedihan” Zach, tetapi ada rasa cinta yang bersemi. Dalam usia hidup yang tidak lama lagi, Zach berfikir untuk memilih mengabaikan orang yang dia sayangi, Amy, demi kebahagiaannya.

Energi “ingin membahagiakan” orang lain itu membuat Zach tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Berkolaborasi dengan Sammy, sahabat yang juga rekan penulis, Zach mulai mengejar mimpinya tanpa menunggu hari esok.

Zach dan Sammy menciptakan sebuah mini album berjudul ‘Fix Me Up’ yang kemudian diunggah di kanal Youtube. Tak pernah terpikir oleh Zach bahwa album Fix Me Up itu bakal menjadi viral.

Visualisasi proses penciptaan lagu Clouds berhasil menjadi menjadi magnet terkuat di film ini. Berpadu dengan perjuangan Zack menghadapi osteosarcoma, film ini bisa ‘memaksa’ kalangan remaja untuk menikmatinya hingga akhir.
Kondisi tubuh Zack kian memburuk. Dokter memperkirakan Zack tidak mampu bertahan sampai acara prom, yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Padahal Zack sangat menginginkan acara prom itu.

Di sini pemirsa harus menahan nafas.

Waktu yang terbatas, namun Zack harus tetap bisa mengikuti prom. Akhirnya, diputuskan untuk menggelar pesta khusus untuk Zack. Ulang tahun, wisuda, prom dan segala hal yang dilewatkan Zach digabung menjadi satu. Penampilan Zach menyanyikan lagu Clouds dalam pesta tersebut merupakan penampilan terakhir Zach dalam film ini.

Kisah inspiratif Zach Sobiach dan pesan mendalam yang disampaikan membuat film ini layak menyandang gelar sebagai salah satu film terbaik Disney. Didukung totalitas pemerannya, Kami bertaruh akan banyak penonton yang meneteskan air mata.

“Manusia hidup di dunia ini hanya sekali, tidak perlu menjadi sekarat untuk mulai menikmati hidup, hiduplah seakan hari ini adalah hari terakhir di dunia.” Kalimat ini menjadi pesan kuat sekaligus penutup ‘Clouds’.

Penulis: Nadia FR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here