Home Compare Saling Klaim Tahta Oppo dan Samsung Dipicu Beda Data 4 Lembaga Survei

Saling Klaim Tahta Oppo dan Samsung Dipicu Beda Data 4 Lembaga Survei

231
0

4 lembaga survei mengeluarkan data market share smartphone Indonesia untuk kuartal ketiga tahun 2019 .

Di periode bulan Juni – Agustus ini, Lembaga survey Canalys, Counterpoint research dan IDC mendudukkan 5 brand smartphone dengan market share tertinggi di tanah air sebagai berikut:

 Canalys Counterpoint IDC 
Unit sharePeringkatShipment market sharePeringkatUnit market sharePeringkat
23%#119%#326,20%#1
11%#511%#512,60%#4
21%#322%#119,40%#3
17%#413%#422,80%#2
22%#220%#212,50%#5

Satu lagi lembaga survey yaitu GfK tidak menyebut secara rinci peringkat market share smartphone Indonesia untuk kuartal ketiga.

Namun dari penuturan Bernard Ang, IM Business Vice President Samsung Electronics Indonesia, riset GfK menyatakan bahwa Samsung masih menduduki peringkat pertama di kuartal ketiga 2019 ini.

“Dari seluruh smartphone yang dibeli konsumen Indonesia di kuartal ketiga 2019, 42 persennya adalah Samsung,” Tutur Bernard.

IDC mendudukkan Oppo sebagai penguasa smartphone di triwulan ketiga 2019 dengan market share 26,2 %. Begitu juga dengan Canalys yang menyebut Oppo di posisi pertama dengan unit share 23%.

Sementara itu Counterpoint Research masih menempatkan Samsung sebagai penguasa tahta utama dengan shipment market share 22%.

Ketidaksamaan persentasi market share oleh empat lembaga survey tersebut tak ayal memicu saling klaim tahta, terutama antara Oppo dan Samsung.

Bisa dimaklumi karena ranking yang dianugerahkan oleh lembaga survey seperti pisau bermata dua.

Di satu sisi bisa menjadi sarana promo ampuh bagi vendor yang rankingnya naik, tapi juga menjadi pukulan bagi vendor yang rapornya turun.

Mengapa Hasil Survei Bisa Berbeda?

Perbedaan hasil survey oleh ketiga lembaga tersebut bisa terjadi karena metode penelitiannya yang berbeda.

Pengamat teknologi Lucky Sebastian dalam cuitannya di akun Twitter menyebut bahwa Firma market research seperti IDC, Counterpoint, dan Canalys, menghitung data Sell-In.

Apa itu data Sell-in?

Data sell-In merupakan data yang berasal dari jumlah barang yang sampai ke distributor atau retailer dari pabrik.

Jadi data yang dihitung merupakan data stock dan belum sampai tangan konsumen. Data ini terkadang juga disebut sebagai shipment.

Menurut Lucky, lembaga riset yang menggunakan data Sell-in tidak mengirim petugas pendataan ke toko-toko retail tetapi biasanya meminta data dari distributor atau dealer.

Lalu mengapa data mereka bisa beda?

Lucky menyebut kemungkinan soal perbedaan parameter yang dipakai oleh masing-masing lembaga riset.

“Bisa jadi parameternya berbeda, dan antar data bisa saja terhitung beberapa kali. Misal (data-red) offline dijual online.

Atau bisa juga ada vendor yang mengijinkan tukar barang, misal sebelumnya terdapat barang tipe X dengan jumlah 1000 unit, ternyata setelah beberapa lama baru laku 600 unit.

Nah 400 unit sisanya boleh ditukar dengan tipe Z. Atau bisa juga data ini terhitung 2 kali, atau ada juga kemungkinan antar distributor saling jual,” Lanjutnya.

Menghitung Unit

Sementara itu mengenai survei yang dilakukan perusahaan riset asal Jerman GfK, Lucky punya pandangan berbeda.

“GFK ini menghitung unit yang dibeli oleh konsumen dari toko offline atau on-line. Ibaratnya (survei-red) pemilu, (yang dihitung-red) adalah pemilih yang hadir ke TPS dan mencoblos, bukan banyaknya pemilih yang terdaftar,” Imbuhnya.

GfK sendiri tidak melansir data hasil surveinya ke publik. Data mereka bersifat komersil dan dijual ke vendor.

“Kalau pernah lihat datanya, GfK sangat detail. Dari price range, jumlah kamera, ukuran layar, dan lain-lain. Lengkap dengan analisa data, sehingga vendor bisa tahu smartphone dengan spesifikasi apa yang sedang diminati diminati konsumen real,” Pungkas Lucky.

Pertarungan Terakhir

Kuartal ke empat adalah kesempatan terakhir para vendor untuk memacu mesin-mesin penjualannya. Susul menyusul data penjualan bisa terjadi di bulan Oktober – Desember ini mengingat kecenderungan belanja masyarakat yang naik jelang akhir tahun.

Sementara kedudukan Oppo dan Samsung masih sama kuat 2-2. Canalys dan IDC menempatkan Oppo di pucuk pasar smartphone kuartal ketiga. Sementara Counterpoint dan GfK memberikan mahkota peringkat pertama ke Samsung.

Siapa yang bakal meraup market share terbanyak tahun ini? Kita tunggu saja!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here