Home Lingkungan Greta Thunberg: Gadis Asperger Pembawa Misi Penyelamatan Bumi

Greta Thunberg: Gadis Asperger Pembawa Misi Penyelamatan Bumi

Aktivis iklim Swedia Greta Thunberg telah dikenal secara global karena kampanye lingkungannya.

Pada Agustus 2018, berusia 15 tahun, Thunberg memulai protes perubahan iklim secara tunggal dengan melakukan protes dari sekolah. Sejak saat itu, ia telah bergabung dengan puluhan ribu siswa sekolah dan universitas di lebih dari selusin negara, dalam pemogokan iklim yang akhirnya menjadi hal yang rutin baginya.

I”Ini membuktikan bahwa kamu tidak pernah terlalu kecil untuk membuat perbedaan,”

Protes global pada bulan Maret menarik lebih dari satu juta orang, puncaknya pada bulan September menjadi yang terbesar dengan diikuti setidaknya 4 juta orang.

Thunberg menggambarkan penyebaran protes yang cepat di seluruh dunia sebagai hal yang menakjubkan.

“Ini membuktikan bahwa kamu tidak pernah terlalu kecil untuk membuat perbedaan,” katanya. Ia menyatakan bahwa aksinya tersebut terinsipirasi oleh seorang siswa AS yang melakukan walkout untuk menuntut kontrol senjata yang lebih baik sebagai respons terhadap peristiwa penembakan di beberapa sekolah.

Aktivis iklim veteran menyatakan kekagumannya atas dampak besar yang diciptakan Thunberg terhadap kesadaran publik dalam waktu yang singkat.

Thunberg telah memulai perjalanan untuk menyebarkan pesannya ke luar Swedia.

Berbicara di Forum Internasional

Berbicara di konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Desember 2018, ia memarahi para pemimpin dunia karena berperilaku seperti anak-anak yang tidak bertanggung jawab.

Pada Januari 2019, dia mendekati petinggi bisnis global di Davos: “Beberapa orang, beberapa perusahaan, beberapa pembuat keputusan khususnya, telah mengetahui dengan tepat nilai-nilai tak ternilai yang telah mereka korbankan untuk terus menghasilkan uang dalam jumlah yang tak terbayangkan.

Dan saya pikir banyak dari Anda di sini hari ini milik kelompok orang itu. “

Penyandang Sindrom Asperger

Lahir di Stockholm pada Januari 2003, ibu Greta yang seorang penyanyi opera bernama Malena Ernman meninggalkan karier internasionalnya sebagai penyanyi opera karena efek iklim dari penerbangan.

Ayahnya, Svante Thunberg, adalah seorang aktor. Greta menderita sindrom Asperger, yang menurut ayahnya, pada masa lalu memengaruhi kesehatannya. Dia melihat kondisinya bukan sebagai cacat tetapi sebagai hadiah yang telah membantu membuka matanya terhadap krisis iklim.

Kecaman

Aksi Greta tak hanya menuai pujian. Ia juga mendapatkan kritik terutama dari aktivis sayap kanan yang mengklaim bahwa dia terlalu muda atau naif. Mereka juga menyebut Greta belum tahu apa yang dia bicarakan dan sedang dimanipulasi oleh orang tuanya.

Seorang komentator di Fox News menyebutnya sebagai “anak Swedia yang sakit mental”.

Fox akhirnya harus meminta maaf akibat pernyataan tersebut. Greta sendiri membantah kritik ini dan menunjukkan bahwa dia bisa menjalani gaya hiduo rendah karbonnya dengan pola makan vegan dan pergi ke New York dengan ebrlayar, bukannya memakai pesawat terbang.

Thunberg bersikeras bahwa dia mengandalkan sains. Alih-alih membacakan pernyataan yang sudah disiapkan saat tampil di Kongres AS, Greta malah menunjukkan laporan iklim IPCC yang mengingatkan tentang bencana pemanasan global yang semakin dekat.

Ia meminta mereka untuk membacanya. Dia berkata: “Saya pikir selama mereka mengejar saya secara pribadi dengan teori penghinaan dan konspirasi maka itu bagus. Itu membuktikan bahwa mereka tidak memiliki argumen. Dan mereka melihat kita sebagai ancaman karena kita memiliki pengaruh. ”

Pada bulan September 2019 dia mengutuk para pemimpin dunia dalam pidato emosional di PBB, mengatakan kepada mereka:

“Anda telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong Anda.”

Suatu saat dia bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump. Tatapannya orang nomor satu Amerika tersebut menjadi viral media sosial. Di twitter, Trump menyindir Greta: “Dia tampak seperti seorang gadis muda yang sangat bahagia yang sedang menantikan masa depan yang cerah dan indah.”

Tak emosi, Thunberg malah memasang kalimat Trump tersebut di bio akun Twitter-nya.

“Saya tidak peduli tentang usia. Saya juga tidak peduli dengan mereka yang tidak menerima sains. Saya tidak punya banyak pengalaman, dan karena itu saya lebih banyak mendengarkan.

Tapi Saya juga punya hak untuk mengutarakan pendapat Saya, berapa pun usia Saya. Menjadi muda adalah keuntungan besar, karena kita melihat dunia dari perspektif baru dan kita tidak takut untuk melakukan perubahan radikal. ” Pungkas Greta kepada The Guardian.

Sumber berita dan Foto: Guardian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here